Dari MSDA, Aku Belajar Banyak Hal :)

MSDA, Manajemen Sumber Daya Anggota, salah satu divisi BPH Gamais ITB yang konsen pada kaderisasi dan penjagaan anggota. Sebuah divisi yang ketika mendengarnya, tak pernah terpikir saya akan berada di dalamnya. Saat SMA, saya fokus pada Keputrian, sedang masa TPB kuliah saya ditempatkan di Syiar MuSA hingga kini.

Namun, sebuah pembelajaran yang sangat berharga ketika saya menjadi staff MSDA. Saya kini mengerti, betapa sulitnya ‘menjaga’ kader, jangankan lebih dari 1000 kader Gamais terekrut, untuk menjaga 1 kader di wilayah misalnya, benar-benar sulit. Namun, itulah belajar,

“belajar menjadi pasukan Allah, yang merangkul dan mengajak hamba-hamba-Nya menuju jalan-Nya. Adakah profesi yang jauh lebih baik dari ini?”

Jika di Syiar saya belajar bagaimana berpikir kreatif, inovatif dan berkembang sesuai kebutuhan dan karakter mad’u, di MSDA sebaliknya. Saya belajar bersabar, tekun, dan teliti untuk mengurus database, menerima dan menjawab pertanyaan serta keluh kesah kader ataupun calon kader ^^, siap dengan gadget jarkom, menghapal nama dan ciri khas mereka, aktif, ramah, dan care serta open handed terhadap berbagai situasi. Disinilah saya belajar banyak untuk bersabar,,

Baik, saya akan mulai dari penjelasan,, ‘MSDA kerja-nya apa saja?’

Pertama, PEREKRUTAN. Ini salah satu awal yang sulit, seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, inilah titik awal sikap careness dan kesabaran kita dinilai. Jangan memaksakan para calon kader kita, namun tempatkan dan jadikan ia berada pada posisi “Tidak bisa menolak ladang kebaikan kita”. Jangan pula men-judge mereka, siapapun itu pasti tidak akan suka.

Kedua, PEMBERIAN NILAI. Nilai yang terpenting adalah Al-Ilmu, yaitu Aqidah, dan selanjutnya adalah ukhuwah. Ukhuwah adalah salah satu alasan terjaganya seorang kader, serta nikmat dan karunia yang besar yang diberikan-Nya.

Ketiga, PELANTIKAN. Tahap ini merupakan salah satu bentuk ‘pengikatan’ seorang kader. Agar rasa kepemilikan mereka terhadap organisasi atau suatu wajihah dapat muncul. Moment ini merupakan salah satu moment yang berkesan dan ‘mengena’. Karenanya, persiapan pelantikan bukanlah hal yang main-main dan harus dipikirkan matang-matang.

Keempat, PENJAGAAN. Menurut saya ini adalah tahap tersulit, sama seperti pepatah “mempertahankan itu jauh lebih sulit dari meraih”. Pada proses ini, akan banyak kader-kader dakwah yang berguguran. Beberapa karna memiliki fokus lain, beberapa karna kurang nyaman, dan selebihnya memiliki alasan yang berbeda-beda. Karena itu niatan awal ketika memasuki gerbang ini, harus kembali dipanggil dan diingatkan. Ruhiah pun perlu di-charge, karenanya ta’lim, dauroh, muhasabah, mabit, mentoring, halaqoh, dan berbagai proses penjagaan lainnya diperlukan.

Kelima, PENYELEKSIAN. Entah apakah proses ini ada baik tersirat ataupun tidak. Kenapa diseleksi? bukan berarti yang tidak lolos lalu mereka akan disingkirkan dari jalan dakwah. Bukan, bukan itu. Tapi, penyeleksian yang dimaksud disini adalah untuk masuk pada tahap terakhir, yaitu

Keenam, PENYERAHAN AMANAH. Amanah yang dimaksud disini adalah amanah untuk memegang posisi-posisi penting dalam jajaran dakwah. Salah satu yang terpenting adalah posisi pemimpin. Pemimpin yang terpilih haruslah pemimpin yang amanah terhadap tanggung jawab dakwah, pemimpin yang telah mengerti urgensi dakwah seutuhnya. Ia adalah orang yang telah lolos melewati ke-lima tahap sebelumnya,, dan tanggung jawabnya sangat besar. Lalu apakah kepemimpinan itu?

Zaid bin Tsabit pernah berkata saat ia berada di samping Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Seburuk-buruk perkara adalah kepemimpinan.” Mendengar hal itu Nabishalallahu ‘alaihi wa sallam menyanggahnya, “Sebaik-baik perkara adalah kepemimpinan, bagi orang yang mengambilnya dengan hak-haknya. Dan seburuk-buruk perkara adalah kepemimpinan, bagi orang yang mengambilnya dengan cara yang tidak benar, maka kelak hanya akan mengundang kekecewaan pada hari kiamat.” (HR. Thabrani).

Lalu bagaimana dengan kader yang tidak masuk pada tahap ke-enam? Apakah mereka lebih buruk? Tidak, sesungguhnya Allah yang lebih tahu kualitas hamba-hamba-Nya. Namun, mereka berada pada posisi penting lain, yaitu sebagai jundi yang tha’at dan tsiqoh ^^

Seorang teman menulis dalam status facebook, “sekarang-sekarang ini sedang marak kaderisasi/osjur, lalu apakah inti dari kaderiasi? ya seperti apa yang dicontohkan Rasulullah, yaitu keteladanan”. Teladan itu adalah proses, baik bagi pengkader dan yang dikader, dan keteladanan pengkader bagiannya jauh lebih besar,, karena mereka menjadi salah satu alasan atau jalan terekrutnya para kader. Dan ingat, hidayah itu datang dari Allah, bukan dari pengkader tsb,, keep istiqomah kawan-kawan🙂

Jadi,, di MSDA belajar apa saja? Belajar mengkader, sabar, ikhlas, dan menjadi teladan tentunya,,

Terima kasih untuk Ka Falma dan Ka Ipul, Sarah, dan Derian, serta teman-teman MSDA lainnya untuk proses pembelajaran yang kalian ajarkan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s