Dengarkanlah dengan Bahasa Mereka

Suatu ketika dalam perjalanan saya ke BEC dengan angkutan umum, saya mendapati pelajaran dari penumpang lain. Kala itu ada 3 orang penumpang yang terlihat seperti rekan kerja atau teman dekat. Satu diantara ketiganya menjadi tokoh utama kisah ini. Ialah teteh itu, ia berkaca mata dan menggunakan pakaian dinas kerja. Saya tidak mencuri dengar pembicaraan mereka bertiga, tapi saya terjepit diantara ketiganya ^_____^

semoga tulisan ini memberi manfaat,,

Kisah ini dimulai dengan awal mula sang kakak menggunakan kacamata. Ia mengisahkan perjuangan masa kecilnya untuk membaca saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Bukan karna tidak bisa, namun yang dimaksud adalah perjuangan membaca tulisan di papan tulis. Saya lupa, tapi seingat saya ia duduk di kelas 4 SD kala itu. Ketika sang guru memintanya membaca tulisan di papan tulis, ia hanya diam. Bukan karna ia tidak bisa membaca, tapi ia memilih diam. Ibu guru pun menghampirinya dan memintanya kembali membaca. Lalu sang kakak berkata “tulisannya bergoyang-goyang Ibu”. Dalam kisah kakak itu, Ibu guru menganggapnya mencari-cari alasan untuk menampikkan dirinya belum lancar membaca. Karenanya, Sang guru memintanya membawa orang tuanya esok hari untuk menghadap beliau.

Kisah berlanjut hingga kedua orang tua beliau mengajaknya berbicara sesampainya di rumah. Dan kakak itupun menjawab dengan jawaban yang sama “tulisannya bergoyang-goyang”. Hingga akhirnya sang kakek mendengar pembicaraan mereka dan berkata kepada bapak dan ibu “Biar kakek antar periksa mata besok”. Hari berlanjut hingga akhirnya hasil pemeriksaan keluar. Kakak itu memiliki minus mata -6, sungguh hal yang sangat mengejutkan tidak hanya untuknya, untuk kakek yang mengantarnya, dokter yang sempat memarahi orang tua kakak tsb secara tidak langsung, dan saya yang terjepit dalam kisah kakak itu. Sesuatu hal yang mungkin wajar terjadi karna sejak kecil, kakak itu mengaku sangat gemar membaca komik, namun habit ini tidak disalurkan dengan baik.

Kisah ini mengingatkan saya pada film Taare Zameen Par. Hal yang sama dialami Ishaan, tokoh utama dalam film ini. Seorang anak laki-laki yang duduk di bangku kelas 4 SD namun ia belum mampu membaca dan menulis dengan benar. Ia berkata pada gurunya “tulisannya menari-nari”, namun sang guru malah menghukumnya berdiri di luar kelas. Ishaan tidak seperti kakak tadi, ia jauh kurang beruntung. Ia menderita penyakit diseleksia, dimana penderita kesulitan mengenali huruf, sulit menafsirkan perintah berurutan secara cepat, dan kelemahan kemampuan motorik.

Kedua kisah ini memberikan pelajaran besar pada saya, bahwa bahasa ‘mind‘ setiap orang belum tentu dipahami sebagian yang lain. Kita mungkin mengerti apa yang orang lain ucapkan, namun itu bukan jaminan kita memahami apa yang mereka maksudkan. Ketika keduanya tidak bertemu maka yang terjadi adalah kesalahpahaman yang mungkin berakhir dengan saling menyalahkan.

Seoarang bayi mengompol, bagaimana cara ia memberi tahu ibunya? hal yang sangat mengkin adalah dengan menangis. Sama seperti kakak tadi dengan Ishaan. Mereka tidak bisa menerjemahkan apa yang mereka rasakan tentang huruf-huruf yang bergetar, memburam, atau bahkan berputar-putar. Sedangkan pilihan yang diberikan guru ataupun kedua orang tuanya hanya ‘ya’ atau ‘tidak’ “ya saya bisa membaca” atau “tidak, saya tidak dapat membaca”.

Karenanya, mari belajar mendengarkan,

dengarkanlah dengan bahasa mereka, dan terjemahkanlah dengan bahasa yang kita dan mereka pahami,

sulit, namun bukan sesuatu yang tidak mungkin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s