Hingga Aku Sadar, Engkau Tidak Sedang Melalaikanku

Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha”

“Ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahan kekuatanku,

kekurangan siasatku,

dan kehinaanku dihadapan manusia.

Wahai Yang Paling Pengasih diantara para pengasih,

Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah,

Engkaulah Rabbku, kepada siapa Engkau serahkan diriku?

Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku,

ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku?

Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku,

sebab sungguh teramat luas afiat yang Engkau limpahkan kepadaku.

Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan

dan karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik,

Agar Engkau tidak menurunkan kemarahan-Mu kepadaku atau murka kepadaku.

Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha.

Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan-Mu” [1]

(Doa Rasulullah saat mengalami penolakan di Tha’if)

Terkadang aku merasa begitu dekatnya Rasulullah kepada Allah dari barisan untaian kata yang ia mohonkan pada-Nya. Bukan karena beliau adalah penyair melainkan karna tingkatan keimanan dan kecintaannya yang begitu tinggi hingga kata-kata yang bahkan tidak cukup untuk menggambarkannya pun menjadi indah. Dan apa yang ia mohonkan bukanlah suatu ‘tuntutan’ bukan pula ‘keluhan’ melainkan bentuk rasa terima kasihnya kepada Rabb-Nya karena ia masih diuji. Sungguh mulia engkau ya Rasulullah,,

a little girl “Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha.”,,, rasanya sudah lama sekali aku mempertanyakan “kenapa Engkau tidak mengujiku dengan berat ya Allah?” salahkah jika aku bertanya demikian?

Ketika SMA, aku mengalami ujian fisik berturut-turut hingga membuatku trauma hingga sekarang. Saat itu aku merasa Allah tidak mengasihiku, entah berapa sering aku menangis kala itu karna rasa sakit yang tidak bisa ku tahan. Namun sekarang aku merasa Allah sungguh baik padaku, aku merasa ujianku saat ini begitu wajar dialami orang lain dalam kondisi yang sama. Beratnya amanah, banyaknya tanggung jawab dan kejenuhan dengan rutinitas. Tapi saat aku mempertanyakan kembali, apakah keimananku begitu rendah dihadapan-Mu hingga aku tidak diuji seperti orang-orang shaleh yang Kau cintai?. Semoga tidak ya Allah, semoga selama ini Kau mengujiku dengan ‘berat’ untuk menaikkan keimananku lebih dari umurku yang sudah lewat,, dan

Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku”

Walau sebenarnya aku takut dengan ujian-Mu dan aku tidak memohonkan sebuah musibah untuk kualami, tidak ya Allah, tidak. Hanya hingga aku sadar aku tidak sedang Engkau lalaikan,,,

_____

1Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah  (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010), h.138

3 thoughts on “Hingga Aku Sadar, Engkau Tidak Sedang Melalaikanku

  1. Pingback: Memohon Kebaikan Pada Keturunan Kelak | mari berbagi :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s