Karena para malaikat kecil tidak berdosa itulah harapan bangsa ini… (1)

Tadi sore saya menonton Seputar Indonesia dengan liputan khusus “Teman” Setia Jakarta. Liputan ini membahas kondisi Jakarta terkini, kali ini membahas tentang fenomena banjir Jakarta. Tulisan ini membahas resume liputan tersebut dan sedikit pandangan saya mengenainya.

Di awal liputan dibahas tentang kebijakan dan rencana Gubernur Jokowi untuk mengantisipasi dan mengatasi banjir tahunan Jakarta. Beberapa diantara kebijakan tsb yang saya ingat adalah pembersihan selokan air di daerah-daerah vital, dan rencana pembuatan gorong-gorong setinggi 16 m di bawah tanah pada tahun 2013 untuk daerah-daerah tertentu.

Liputan berlanjut dengan tanggapan dosen pascasarjana IPB yang ahli dalam bidangnya. Ia berpendapat bahwa apa yang direncanakan Jokowi sudah baik namun hal tsb adalah penanganan di bagian hilir saja. Perubahan tidak akan bersifat permanen ketika bagian hulunya tidak ditangani. Lalu dimanakah bagian hulunya? hulu dari solusi penanganan banjir tahunan ini terletak di daerah resapan air di Puncak, Bogor.

Daerah Puncak kini berdasarkan hasil penelusuran tim Seputar Indonesia, telah dipenuhi oleh tembok-tembok bangunan. Padahal berdasarkan peraturan yang berlaku daerah Puncak bagian hulu merupakan daerah resapan air dan sebagai pencegahan terjadinya banjir Jakarta. Namun kini daerah tersebut penuh sesak oleh vila-vila milik warga kelas menengah atas yang notabene bukan warga asli Bogor. Lalu bagaimana mereka memperoleh izin? tentu karena ada “uang” dibalik semuanya. Keberadaan vila-vila tsb tidak dapat dibersihkan begitu saja karena para pemilik memperoleh surat IMB yang sah secara hukum. Hal ini sudah mengakar hingga jumlah vila-vila tersebut kini mencapai ribuan.

Dari vila beralih ke daerah hilir, tepatnya bantaran Sungai Ciliwung. Tim Seputar Indonesia meliput tentang habit warga setempat yang  “terbiasa” membuang sampah ke sungai. Ketika diwawancara, jawaban yang terlontar beragam, mulai dari “mumpung lewat”, “sudah biasa”, hingga “tidak ada tempat sampah”. Dari 16 RT di kecamatan tsb, hanya terdapat 4 tempat pembuangan sampah yang ukurannya tidak cukup besar untuk menampung seluruh sampah warga. Ketika Kepala camat setempat diwawancara, ia mengungkapkan akan menyediakan container untuk menampung sampah warga.

Konklusi yang disampaikan oleh reporter Seputar Indonesia di akhir tayangan adalah bahwa kondisi banjir Jakarta disebabkan karena masyarakat primitif yang kurang mengenal teknologi memiliki kebiasaan sikap yang buruk sedangkan masyarakat modern cenderung menyalahi aturan melalui uang, dan kebijakan yang direncanakan Gubernur Jakarta tidak akan berpengaruh apa-apa tanpa perlibatan masyarakat didalamnya.

Menonton liputan ini menyadarkan saya akan beberapa hal. Rasanya gemas sekali melihat negeri ini sebegitu mudahnya dihancurkan alam hanya karena habit yang menjadi pembenaran dan keserakahan akan materi. Mengubah paradigma keduanya begitu sulit terutama jika itu sudah tertanam pada diri orang-orang yang sudah berumur atau orang-orang dewasa. Itulah mengapa mengajarkan anak-anak tentang mematuhi aturan jauh lebih mudah dibandingkan mengajarkan orang dewasa. Andai saja, andai saja, Pendidikan Karakter Anak dijadikan divisi kementrian tersendiri berbeda dari Kementrian Pendidikan, saya akan mendukung 100%.

smiling-children

Karena para malaikat kecil tidak berdosa itulah harapan bangsa ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s