Tentang Bu Qori, Bu Dewi, Pak Sugeng, dan Pak Arif. Antara Cinta, Keteguhan, Ketulusan, dan Tanggung Jawab

Mereka yang namanya saya tulis pada judul tulisan ini adalah para dosen yang saya kagumi di kampus tempat saya menempa ilmu kini. Ini bukan tulisan ‘mencari muka’ terlebih ‘mencari nilai’ karena saya berani menjamin bahwa saya tidak punya urusan tentang keduanya terhadap mereka. Ini hanyalah persembahan cinta seorang mahasiswa terhadap pembimbing, mentor, sekaligus orang tua ke-dua-nya.

Tentang Bu Qori

Nama lengkapnya Hj. Qoriah Alibasyah Siregar, MA. Beliau adalah salah satu dosen mata kuliah AEI (Agama dan Etika Islam). Saya mengenalnya kurang lebih tiga minggu lalu saat acara ITB Spiritual Camp di Salman. Saat itu ia datang untuk melihat keberjalanan acara, sedang saya bertugas sebagai panitia. Karena peran tsb, mungkin ada sedikit rasa tanggung jawab untuk mengajak beliau mengobrol karena kebetulan beliau tidak didampingi dosen lain. Kesan pertama yang saya tangkap dari beliau adalah beliau cantik, dan jujur saya jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya🙂 . Seperti ada suatu magnet, entah apa. Awalnya pertanyaan yang saya ajukan sekedar basa-basi namun pada akhirnya saya menanyakan hal-hal yang lebih privasi mulai dari asal daerah beliau, kondisi suami dan anak beliau, hingga kesibukan beliau. Mungkin terkesan lancang tapi entah mengapa saat itu saya tidak merasa ada tembok diantara kami dan saya melihat beliau selayaknya ibu saya sendiri seutuhnya. Dari jawaban-jawaban beliau, saya semakin simpati kepadanya, ia adalah wanita yang sangat kuat dan tangguh. Beliaulah dosen pertama dan satu-satunya yang ketika saya bertemu dengannya, tanpa sungkan beliau akan mencium pipi saya. Sungguh saya sayang pada Anda Bu, semoga Allah menempatkan Anda di surga-Nya🙂

Tentang Bu Dewi

Nama lengkap beliau Dewi Larasati, ST., MT., Ph.D. Beliau adalah dosen mata kuliah Manajemen Proyek di prodi saya, Arsitektur. Tentang beliau, saya hanya ingin menuliskan bahwa ia seperti cermin diri saya sendiri. Hal yang paling saya kagumi dari diri beliau adalah beliau membenci ketidakadilan, apapun itu. Beliau selalu menceritakan bagaimana dunia ini secara nyata bekerja, dengan uang. Diluar sana kita mungkin akan lupa dengan selogan ‘bersih’, ‘jujur’ dan ‘bertanggung jawab’. Arsitek bisa membuat desain apapun sesuai keinginannya dan permintaan kliennya. Walau terkadang ia lupa bahwa bangunan tsb bukan hanya untuk dipandang, melainkan untuk menaungi. Bahwa terkadang ia lengah untuk mengawasi pembangunan tsb dari tangan-tangan yang mencoba mencari keuntungan haram darinya. Maka akan aneh jika untuk memperbaiki toilet gedung DPR saja mencapai Rp. 2 Milyar, harga yang sama untuk membiayai uang kuliah 50 mahasiswa di PTN selama 4 tahun melalui jalur SNMPTN. Beliau pernah mengatakan bahwa saat reuni nanti, teman-teman kita akan menanyakan tentang jabatan kita saat ini bukan apa yang telah kita lakukan untuk sesama. Karena kita di-didik untuk melihat materi bukan substansi. Dan saya sangat setuju dengan Anda Bu, bahwa nilaimu tidak dilihat dari pandangan orang lain terhadapmu melainkan apa yang telah kamu perbuat. Semoga Allah semakin meneguhkanmu Bu dan membalasmu dengan surga-Nya🙂

Tentang Pak Sugeng

Nama lengkap beliau adalah Sugeng Triyadi S, Ir., MT., Dr. Beliau adalah dosen mata kuliah Struktur, Konstruksi dan Bahan (SKB). Beliau juga salah seorang dosen senior di prodi Arsitektur. Tidak lama lagi beliau akan pensiun sebagai dosen. Saya menggambarkan beliau dengan ketulusan. Ya, beliau begitu tulus mengajar, beliaulah dosen pertama yang saya akui ketulusannya tanpa pamrih. Beliau pernah berkata bahwa untuk apa malu jika mengulang mata kuliah tertentu? Saya justru senang karena artinya kita diberi kesempatan kedua untuk belajar dan lebih mendalami. Mengulang tidak berarti Anda bodoh, ungkap beliau. Beliau menilai seseorang bukan dari nilai yang ia peroleh melainkan dari kesungguhannya. Ia mencintai ilmu pengetahuan selayaknya ia ingin agar kami, mahasiswa beliau, memperoleh ilmu tersebut seutuhnya. Tidak jarang ia mengulang pembahasan mata kuliah jika kami belum paham, dan ia selalu sabar menerangkan kepada kami. Ia sudah saya anggap selayaknya kakek sendiri, karena saya sudah tidak punya kakek lagi. Semoga Allah mencatat ilmu Anda sebagai amal jariyah yang akan menghantarkan Anda ke surganya-Nya🙂

Tentang Pak Arif

Nama lengkap beliau Arif Sarwo Wibowo, ST., MT., Dr.Eng. Beliau adalah dosen wali saya dulu. Saat ini beliau sedang di Jepang untuk memperdalam ilmu. Satu hal yang saya kagumi dari beliau adalah totalitas beliau dalam menjalankan amanah. Ketika mengajar, membimbing, ataupun mengoreksi proposal, beliau selalu bersungguh-sungguh. Tidak pernah sekalipun saya melihat beliau bersikap acuh atau asal-asalan. Saya sangat menghormati beliau selayaknya seorang Bapak. Semoga Anda sehat di sana Pak, dan semoga Allah selalu melindungimu dan membukakan pintu surga-Nya untukmu🙂

***

Mereka adalah orang-orang yang istimewa, yang belum saya temukan pada dosen lain, bukan karena saya tidak menemukannya. Karena Allah sudah menitipkan rasa cinta dan hormat pada diri saya untuk mereka,,, semoga Allah mencatat kebaikan kalian dan membalasnya dengan limpahan kebaikan lainnya🙂

3 thoughts on “Tentang Bu Qori, Bu Dewi, Pak Sugeng, dan Pak Arif. Antara Cinta, Keteguhan, Ketulusan, dan Tanggung Jawab

  1. Hay, yang kamu maksudkan itu ibuk aku, ibuk qori, dia adik kandung nya ayah aku, dari tanjungbalai asahan, salam yaa sama dia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s