Endapan Ilmu Pengetahuan

Maka Gemuruhlah Makkah dan Madinah oleh lantunan takbir dan talbiyah,

ketika sunyi membungkam Roma dan Konstantinopel dalam kekakuan dogma.

Maka hangatlah diskusi-diskusi di Bashrah dan Kufah,

saat Genoa dan Venesia dihantui inkuisisi.

Maka bersinarlah perpustakaan Kairo,

ketika para dukun komat-kamit di kegelapan Lissabon.

Maka gemerlaplah Baghdad oleh lantunan ayat di semarak malam,

ketika Paris gulita sejak senja dalam takhayul dan mitos.

Maka gemericiklah air mancur Damaskus dalam kesucian thaharah,

ketika para bangsawan di Landon menganggap mandi adalah aktivitas berbahaya.

Maka berdengunglah ayat-ayat Allah menjelang buka puasa

dengan sajian kurma, yoghurt, serta buah segar di balkon-balkon pualam Cordoba dan Granada,

saat Kathedral di Wina dan Bern menutup makan malam dengan pudding darah babi. [1]

Salim Akhukum Fillah, Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim (Yogtakarta: Pro-U Media, 2007), h.391

***

Apa yang ia tuliskan pada bukunya mengenai peradaban islam yang ditorehkan oleh pejuang-pejuang Allah di bumi ini membuat saya malu. Bahwasanya saya tidak banyak tahu mengenainya, saya hanya mengetahui bait kalimat pertama dan kelima (mengenai London). Membaca lantunan kata yang Salim tuliskan seperti membaca sebuah resume atas endapan pengetahuan yang ia miliki.

Ketika duduk di kelas 6 SD ia telah membaca buku parenting, mencoba mem-visualisasi-kan sosok ayah seperti apa yang ia ingin ciptakan kelak. Ketika umurnya 20 tahun, ia telah menerbitkan buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu” yang menjadi best seller bahkan ketika saya membelinya pada cetakan ke sebelas. Bahkan sebelum itu ia telah menuliskan buku yang lebih dulu mendahului best seller, “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan” yang setahu saya ditulisnya ketika masih SMA. Pada umurnya yang ke 23 ia telah menerbitkan buku “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim” tentang pencarian diri seorang muslim sejati.

Ini bukan tentang menuliskan keunggulan yang telah ia torehkan di usianya yang masih muda. Ini tentang membandingkan diri kepada seorang figur untuk menjadi tali pacu agar kita lekas berkaca dan berbenah “sudah sejauh mana kita berjalan ?”. Agar kita tidak lekas terlena dengan apa yang kita anggap “cukup banyak yang telah saya tahu.”

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” QS. Lukman (31): 27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s