Flashback: Puzzle Pencarian dalam Tugas Akhir

Puzzle Pertama

Pada 1984, seorang psikolog bernama Roger Ulrich mempelajari pasien yang sedang dalam masa penyembuhan dari bedah kandung empedu di rumah sakit di Pennsylvania. Beberapa pasien di tempatkan di kamar yang menghadap pepohonan kecil pantai di musim gugur. Beberapa pasien lainnya ditempatkan di kamar yang menghadap dinding bata. Ulrich menguraikan hasilnya: “Pasien dengan  pemandangan jendela alam, menginap di rumah sakit lebih singkat pasca operasi, mempunyai lebih sedikit komentar negatif dalam catatan perawat … dan cenderung mencetak skor kecil dalam komplikasi pasca-pembedahan, seperti sakit kepala yang terus-menerus atau muntah-muntah yang memerlukan pengobatan. Selanjutnya, pasien yang ditempatkan di ruangan yang menghadap dinding bata memerlukan lebih banyak lagi suntikan penghilang rasa sakit. [1]

Satu paragraf tersebut baru saja saya baca dari buku The Geography of Bliss karya Eric Weiner. Paragraf yang semestinya saya temukan setidaknya 4 bulan lalu ketika saya sedang menyusun tugas akhir saya yang berjudul ‘Rumah Sakit Ortopedi Jakarta’. Hasil riset yang belum dapat saya yakinkan pada seseorang kebenarannya karena saat itu saya tidak menunjukan bukti mengenai penelitian ini. Puzzle pertama ini justru saya temukan ketika saya tidak sedang mencarinya, namun bagaimanapun saya sangat bersyukur karna saya mendapatinya dari buku yang mengisahkan tentang pencarian kebahagiaan tsb.

Pertanyaan pertama yang ditujukan pada kami saat penyusunan tugas akhir adalah “Mengapa Anda memilih tipologi bangunan tsb?”. Saya masih ingat bahwa visioning saya adalah membangun rumah sakit pertama berbasis penelitian di Indonesia. Saya memimpikan Indonesia dapat semaju Jepang sebagai negara research termasuk dalam bidang kedokteran. Karena peluang kita sebenarnya besar. Bagaimana tidak, Indonesia begitu kaya akan berbagai flora yang mungkin tidak dimiliki negara-negara lain, yang mungkin juga berpotensi besar menyembuhkan penyakit-penyakit akut. Pernah mendengar kulit manggis dan daun sirsak sebagai obat kanker? ya, itu salah satu yang saya maksudkan. Hingga akhirnya harapan itu tidak sampai saya gagas pada sidang tugas akhir. Terlalu banyak ketidak-fakta-an pendukung dalam realisasinya, artinya kondisi Indonesia saat ini belum mampu untuk dijadikan landasan visioning tsb, sekalipun visioning itu untuk 20 tahun mendatang atau lebih.

Arsitek adalah impian saya setelah sebelumnya saya pernah bermimpi menjadi ahli astronomi dan pramugari. Namun saat ini, berbalik 180 derajat, saya tidak lagi memimpikannya. Jika ditanya apakah saya bahagia dengan apa yang telah saya pilih? saya hanya akan menjawab bahwa saya bersyukur. Masa-masa penyusunan tugas akhir adalah masa-masa ketika saya menyadari bahwa kecintaan kita pada suatu hal akan memengaruhi kesungguhan kita pada hal tsb. Dan saya sadar bahwa saya tidak cukup memberikan rasa cinta pada ‘salah satu syarat (akhir) untuk memperoleh gelar sarjana’ tsb. Alasannya ada pada diri saya sendiri, yang anehnya tidak menumbuhkan rasa kekecewaan atau penyesalan seperti yang sering saya alami ketika saya tidak cukup perfeksionis dalam menyelesaikan sesuatu.

Puzzle Kedua

Aschau Orthopedic Pediatric Clinic Center, Germany by Nickl & Partners Architects

“… With the new buildings, the purpose of the design was to create a functionally-oriented extension. The new foyer is large, completely glazed room over several floors, leading to the residential section and play areas via the halls. To cater for therapeutic purposes, a 12 feet wide, 50 feet high climbing wall has been build into the foyer. The climbing grips are adjustable to enable the continual creation of new “climbing routes”. Along with the play zones, a straightforward orientation plan was also of particular importance for the children.” [2]

Climbing Wall as Therapeutical Garden

Paragraf diatas menjawab pertanyaan “Apa inovasi dalam desain Anda ?”, pertanyaan yang saya jawab saat itu dengan “Adanya sport medicine program pertama di Indonesia bagi pasien atlet ” walau pada akhirnya konsep itu tidak banyak saya tuangkan. Saya lebih terfokus pada ‘memenuhi requirement‘ dibandingkan ‘menuangkan inovasi desain’ yang tidak banyak diajukan oleh dosen-dosen penguji. Hingga akhirnya dua hari lalu saya menemukan preseden Aschau Orthopedic Pediatric Clinic Center pada salah satu buku di kantor tempat saya kerja praktek saat ini. Sebuah gagasan yang tidak saya temukan pada ‘jelajah pustaka’ saya saat itu.

Kedua hal tersebut saya namai ‘puzzle pencarian’. Terkadang kita mendapatkan sesuatu justru saat kita tidak lagi membutuhkannya. Sebagian besar menganggapnya sia-sia namun saya pikir ini tetap sebuah rahmat. Jika manfaatnya tidak sebanyak jika kita mendapatkannya pertama kali, namun tetap saja ia bermanfaat. Dan selalu ada hikmah yang terserak dari kepingan ‘puzzle pencarian’ yang Allah berikan pada kita, maka bersyukurlah🙂

___

Eric Weiner, The Geography of Bliss (Bandung: Penerbit Qanita, 2011), h. 66

2 Christine Nickl Weller and Hans Nickl (eds.), Hospital Architecture (Berlin: Braun, 2007), h.20

2 thoughts on “Flashback: Puzzle Pencarian dalam Tugas Akhir

  1. hohoho zaeee, aku baru baca tulisanmu yang ini
    baguuuuus
    Selalu ngiri sama anak anak Arsitektur yang mendedikasikan karyanya buat masyarakat🙂
    kereeeen #twothumbsup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s