Kasih Sayang Rasulullah Terhadap Anak-Anak

Rasa kasih sayang adalah hak setiap anak yang wajib dipenuhi oleh kedua orang tuanya selama mereka mampu memenuhi hal tsb. Namun demikian, banyak orang tua yang kini melalaikannya dengan dalih kesibukan yang pada akhirnya tidak dapat menyempatkan diri mengajak buah hatinya bercanda dan bersenda gurau. Rasulullah sebagai uswatun hasanah ummat muslim telah banyak memberikan contoh tentang pentingnya memberi kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak. Berikut ini adalah beberapa dalil yang saya ambil dari majalah Asy Syariah yang menceritakan kisah para sahabat yang pernah mengalami kasih sayang Rasulullah saw secara langsung.

___

Seperti kisah Mahmud bin Ar-Rabi’ “Aku masih ingat semburan nabi saw. yang beliau semburkan di wajahku dari ember. Waktu itu usiaku masih lima tahun.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no.77)

Kisah Abu ‘Umair ini menunjukan bolehnya seorang anak bermain dengan burung. Diperkenankan juga bercanda dengan gurauan yang tidak mengandung dosa, serta berlemah lembut dan bersikap ramah terhadap anak kecil. Demikian pulalah kebaikan akhlak, kemuliaan pribadi dan ketawadhuan Rasulullah saw. tergambar dari kisah ini. (Syarh Shahih Muslim, 14/129)

Seorang shahabiyyah, Ummu Khalid bintu Khalid ra. mengisahkan pengalaman masa kecilnya bersama Rasulullah saw. ketika menemui beliau bersama ayahnya :

“Aku pernah datang kepada Rasulullah saw. bersama ayahku. Waktu itu aku memakai baju kuning. Rasulullah saw. pun berkata, ‘Sanah, sanah!’. Abdullah (Ibnul Mubarak) berkata: kata ini dalam bahasa Habasyiyah berarti bagus. Ummu Khalid bercerita lagi: Lalu aku bermain-main dengan tanda kenabian hingga ayahku. Dia (Ummu Khalid) berkata; Maka aku pergi bermain khatam nubuwah (cincin yang bertanda kenabian) hingga ayahku menghardikku namun Rasulullah saw. berkata: “Biarkanlah dia”. Rasulullah saw. bersabda: “abliy wa akhlifiy tsumma abliy wa akhlifiy tsumma abliy wa akhlifiy tsumma abliy wa akhlifiy” (“Semoga sampai lusuh bajunya”, ini adalah suatu do’a untuk mendo’akan seseorang agar panjang umur hingga bajunya lusuh). ‘Abdullah berkata; Maka Ummu Khalid hidup lama sampai dia menceritakannya. (Menurut Ibnu Hajar, “Amah binti Khalid hidup lama sekali, yakni hidup hingga zaman Musa bin Uqbah.” Sedangkan al-Dzahabi berkata, “Ia hidup hampir 90 tahun, saya berpendapat bahwa Amah binti Khalid adalah shahabiyah yang terakhir meninggal dunia, karena ia hidup hingga zaman Sahl bin Sa’d.”). (Shahih, HR. Al-Bukhari no.5993)

 

Rasulullah saw. juga pernah menggambarkan kasih sayangnya kepada cucu beliau, Al-Husein bin ‘ Ali bin Abi Thalib ra. seperti yang dikisahkan Ya’la bin Murrah :

“Kami pernah keluar bersama Nabi saw. Pada waktu itu kami diundang makan, tiba-tiba Al-Husain bermain-main di jalan. Rasulullah saw. pun segera mendahului orang-orang, kemudian membentangkan kedua tangan beliau, dan berlari kesana kemari, mencandai Al-Husain hingga berhasil memegangnya. Kemudian beliau letakkan salah satu tangan di dagu Al-Husain dan tangan yang sebelah di kepalanya. Beliau pun memeluk dan menciumnya, lalu berkata, ‘Al-Husain adalah bagian dariku dan aku bagian darinya. Allah mencintai orang yang mencintai Al-Hasan dan Al-Husain. Mereka itu dua orang dari anak cucu Ibrahim as.” (Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 279) [1]

Al Ustadzah Ummu Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran, (Majalah Asy Syari’ah) Bersamamu Menyusuri Duniamu (Yogyakarta: Penerbit Oase Media, 2004), h.64-65

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s