Menjadi Istri Kelak, Inshaa Allah #1

Bagi saya pernikahan bukan hanya perkara menemukan orang yang tepat, jauh lebih dari itu adalah bekal ilmu dan amal dan menghadirkan Allah dalam setiap langkah menuju kearahnya. Karena ini adalah langkah pertama memperbaiki ummat, membangun peradaban islami, mempersiapkan generasi penerus, dan terwujudnya khilafah suatu hari nanti. Menjadi wanita adalah mempersiapkan diri untuk menjadi istri dan ibu kelak, menjadi wanita yang kuat dan tegar.

Jika ada yang bertanya “Mengapa surga wanita cukup diraih dengan patuhnya ia terhadap suaminya yang taat?” sedangkan surga pria didapat dengan usaha jauh lebih dari itu. Ya Allah, hamba wanita dan hamba paham seperti apa sosok ini. Ia dilahirkan dengan lebih banyak bicara, ia jauh lebih ingin didengar dibandingkan mendengar, ia dilahirkan lebih banyak mengaitkan solusi dengan perasaan dibandingkan nash yang seharusnya, saat ia benar-benar marah atau kecewa ia hanya akan menangis tanpa mampu menjelaskan seperti apa keinginannya. Mulutnya jauh lebih berbahaya dari apapun.

Wanita mampu menangis dalam tawanya, Wanita juga mampu tertawa dalam tangisnya.
Saat wanita berkata “Aku baik-baik saja.” Padahal kenyataannya hati-nya hancur.
Mereka sedikit kesulitan mengungkapkan isi hatinya, lukanya, bahkan semua yang membuatnya terluka.
Jika pun mereka bisa mengungkapkannya, mereka tidak mampu mengungkapkan semuanya, selalu ada yang disisakan untuk diungkapkan.
Kerana dalam kondisi seperti itu pun wanita masih memikirkan perasaan prianya.
Mereka tidak ingin prianya sedih dan ragu meskipun di saat bersamaan hatinya sudah hancur lebur.
Bagai kapas yang beterbangan yang sulit untuk disatukan kembali dalam sebuah hati yang utuh.
Setegar dan sekuat apapun wanita, dia pasti menangis. Entah dengan atau tanpa aliran air mata.
Dalam setetes air matanya ada jutaan kata penuh makna yang tak mampu terucap.
Wanita adalah makhluk Allah Subhanahu Wa Ta’ala penuh makna.
Wanita diciptakan bukanlah dari kepala untuk dijadikan pemimpin, wanita tidak diciptakan dari kaki untuk dijadikan sebagai alas..
Tapi wanita diciptakan dari tulang rusuk untuk dijadikan pendamping, dekat dengan tangan untuk dilindungi dan dekat dengan hati untuk dicintai.

Ust. Yusuf Mansyur

Menjadi seorang istri bukanlah perkara mudah. Ia harus meluluhkan mulutnya dan egonya. Seringkali saya menjadi pendengar teman-teman yang menceritakan kisah dan rahasianya hingga rasanya tidak ada lagi yang disisakan. Hingga saya berinstrospeksi diri, “apakah saya juga demikian?” karena jika ya, saya harus berhenti. Bukan berarti hal tersebut salah, tapi sebagai latihan diri. Menahan apa yang seharusnya tidak diungkapkan, karena bisa jadi itu jalan masuk setan yang sangat halus.

Betapa mulianya menjadi istri yang shalihah, ia memendam semuanya sendiri, kecewanya, marahnya, dan kekurangan keluarganya. Ia tidak bisa menampakkannya terutama pada anak-anaknya. Ia tidak bisa mengungkapkannya pada orang lain, tidak pada sahabatnya, orang tuanya, terlebih anaknya. Mengapa? karena menjaga izzah keluarganya adalah tanggung jawabnya. Dan itulah mahar surga untuknya, mahar yang sangat mahal. Terkesan mudah, tapi kami para wanita tahu bahwa itu sulit, dan Allah jauh lebih tahu apa ganjarannya.

Karenanya menjadi istri shalihah adalah menjadikan Allah satu-satunya tempat kembali, tempat mencurahkan hati, dan tempat meminta. Menjadikan Ia satu-satunya. Sulitkah? ya, tapi putri Rasulullah, Fatimah az-Zahra, telah membuktikan ia mampu bahkan jauh sebelum ia menjadi seorang istri.

One thought on “Menjadi Istri Kelak, Inshaa Allah #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s