Memperebutkan Gelar Ahlu Bisyarah Roma #1

Bermula dari hadits yang disampaikan Rasulullah ketika kaum muslim dengan beratnya menggali parit pada Perang Khandaq (atau disebut juga Perang al-Ahzab), hadits ini seolah menjadi oase penyemangat diantara kaum muslimin yang dilain pihak membuat para kaum yahudi mengatakan “Muhammad sudah gila”, hadits tersebut berbunyi

Berkata Abdullah bin Amru bin Ash: “bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah saw untuk menulis, lalu Rasulullah saw ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma? Maka Rasulullah menjawab, ‘Kota Heraklius terlebih dahulu’, yakni Konstantinopel” HR. Ahmad

Pencapaian ini adalah ekspedisi kerinduan selama kurang lebih 826 tahun sejak Perang Khandaq pada Maret 627 M dan akhirnya pembebasan Konstantinopel pada Mei 1453 M. Maka ini adalah penantian panjang seperti halnya menantikan 826 tahun sejak 1453 M yaitu tahun 2279 M, dan wallahua’lam apakah Roma akan ditaklukan setelah kurun waktu yang kurang lebih sama? Saya berharap saya mampu menyaksikannya atau jika Allah berkehendak lain, maka saya berharap keturunan saya kelak akan menjadi bagian darinya, aamiin ya Rabb.

Ibnu Ishaq berkata, “Orang yang tidak aku ragukan kejujurannya berkata kepadaku dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata ketika negeri-negeri yang disebutkan Rasulullah saw tersebut ditaklukkan pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan pemerintahan sesudahnya, `Taklukkan negeri mana saja yang kalian inginkan, karena demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah berada di tangan-Nya, tidaklah kalian menaklukkan salah satu kota hingga hari kiamat, melainkan Allah telah memberikan kunci-kuncinya kepada Muhammad saw sebelum itu’.”

Sebaik-baik pemimpin adalah gelar yang disandang Fatih Sultan Mehmed (II) Khan bin Murad atau yang lebih dikenal dengan Muhammad al-Fatih atas keberhasilannya membebaskan Konstantinopel, ibukota Byzantium. Beliau pun hendak menaklukan Roma untuk menggenapkan bisyarah Rasulullah, namun takdir berkata lain, ia meninggal dalam kondisi siap untuk membuka Roma pada 3 Mei 1481 dalam usia 49 tahun.

Sebelum Muhammad al-Fatih meninggal, ia sempat meninggalkan wasiat yang disampaikan kepada keturunannya dan siapapun ynag menjadikan Roma sebagai tujuannya:

Tak lama lagi aku akan menghadap Allah Swt. Namun, aku sama sekali tidak merasa menyesal karena aku meninggalkan pengganti sepertimu. Jadilah engkau seorang pemimpin yang adil, salih, dan penyayang. Rentangkan perlindunganmu untuk seluruh rakyatmu, tanpa kecuali. Bekerjalah engkau untuk menyebarkan islam karena sesungguhnya itu merupakan kewajiban para penguasa di muka bumi. Kedepankan kepentingan agama diatas kepentingan lain apapun.

Janganlah sekali-kali engkau angkat jadi pegawaimu mereka yang tidak peduli dengan agama, yang tidak menjauhi dosa besar dan yang tenggelam dalam dosa. Jauhilah olehmu bid’ah yang merusak agama. Jauhi pula mereka yang menggodamu untuk memasukinya.

Lakukan perluasan setiap jengkal tanah islam dengan jihad. Lindungi harta Baitul Mal, jangan sampai dihambur-hamburkan. Jangan sekali-kali tanganmu mengambil harta rakyatmu kecuali sesuai ketentuan Islam. Pastikan mereka yang lemah dan fakir mendapatkan jaminan kekuatan darimu dan berikanlah penghormatanmu untuk siapa yang memang berhak.

Ketahuilah sesungguhnya para ulama adalah poros kekuatan di tengah tubuh negara, maka muliakanlah mereka, semangati mereka. Bila ada dari mereka yang tinggal di tempat lain maka hadirkanlah dan hormatilah mereka, cukupilah keperluan mereka.

Berhati-hatilah, waspadalah, jangan sampai engkau tertipu oleh harta benda maupun banyaknya tentara. Jangan sampai engkau jauhkan ahli syari’at dari pintumu. Jangan sampai engkau sekali-kali melakukan satu hal yang bertentangan dengan hukum Islam karena sesungguhnya agama itulah tujuan kita, hidayah Allah adalah manhaj hidup kita, dan oleh sebab itulah kita dimenangkan.

Ambillah dariku pelajaran ini. Aku hadir ke negeri ini bagaikan seekor semut yang kecil, lalu Allah memberi nikmat yang demikian besar ini, maka berjalanlah seperti apa yang aku lakukan. Bekerjalah engkau untuk meninggikan agama Allah ini dan hormatilah ahlinya. Janganlah engkau hamburkan harta negara, berfoya-foya dan menggunakannya melampaui batas yang semestinya. Sungguh itu semua adalah sebab-sebab terbesar datangnya kehancuran.” [1]

Felix Y. Siauw, Muhammad Al-Fatih 1453 (Jakarta: Penerbit AlFatih Press, 2013), h.312-314

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s