Pendampingan Anak Saat Menonton TV dalam Upaya Memantau Aqidah*

Acara-acara televisi hari ini jauh berbeda dengan 15 tahun lalu saat saya masih anak-anak. Walau demikian, tantangannya masih sama, yaitu seleksi nilai-nilai yang disajikan TV. Saya ingin sharing apa yang saya alami saat kecil. Saya lahir 1991, yang mana dengan kelahiran kisaran tahun tsb banyak sekali menyaksikan film anak-anak dari luar yang tanpa sadar memberi ‘nilai agama’ sesuai negaranya. Nilai yang paling dominan adalah nasrani dan sebagian Hindu dan Budha.

Film-film seperti Carita de Angel yang berkisah tentang seorang anak yang hidup dalam lingkungan sekolah biarawati, Kera Sakti yang berkisah seputar ajaran Budha, atau film-film natal Air Bud, Home Alone, MVP : Most Valuable Primate, dan lainnya yang tersisip cerita tentang Santa Clause, Buku Harian Nayla yang bernafaskan Kristiani, dan lain-lain.

Menjelang dan saat natal, ibu melarang kami memonton film-film seperti yang saya sebutkan walau lama-kelamaan berhasil juga menonton diam-diam hehe. Saat itu saya pikir orang tua saya terlalu berlebihan, namun sekarang saya sadar mereka tidak cukup punya waktu mendampingi karena bekerja sehingga tindakan preventif yang mereka berikan adalah dengan melarang.

Percaya atau tidak, terkadang dalam umur-umur belum dewasa seperti itu (sekalipun sudah baligh), anak-anak bisa terbawa ke-melankolis-an film-film tersebut seperti menyanyikan lagu-lagu nasrani dan natal, kekaguman hingga kesimpatian terhadap agama mereka, bahkan hingga mengikuti agama mereka. Hal yang wajar? ya, karena mereka masih polos. Tapi jika dibiarkan terus menerus, itu mampu mengeruhkan dan merusak aqidah mereka.

Ketika saya mengisi mentoring agama di tingkat dua kuliah, seorang adik bercerita tentang temannya yang ia khawatirkan aqidahnya. “Teh, ada temenku yang dia aneh banget. Kalau denger lagu-lagu nasrani bawaannya tenang dan damai, tapi kalau denger Al-Qur’an jarang banget teh. Terus dia suka memuji-muji agama lain tapi kalau ditanya soal islam dalam perkara yang sama dia ga tahu”. Nah loh? yang terlintas dalam pikiran saya adalah bagaimana dengan orang tuanya?. Apakah islamnya yang salah? tentu tidak, melainkan ‘pembiaran’ yang dilakukan terus-menerus hingga menggunung dan menutup fitrah dalam dirinya. Saya rasa anak ini kemungkinan besar tidak menyeleksi apa yang ia lihat dan dengar dan tidak mendalami keislamannya. Dan orang tua berperan besar dalam pendampingan yang menjadi hak anak tersebut.

PendampinganAqidah selayaknya bangunan, jika pondasinya kokoh maka kokoh pula bangunan tersebut. Begitu juga dengan anak, jika dasar keimanan yang ditanamkan sejak kecil bahkan saat dalam kandungan itu kokoh, maka inshaa Allah kokoh pula saat ia dewasa. Maka wajar seorang bayi muslim yang baru lahir, hal pertama yang ia dengar bukanlah “mama, papa” melainkan sahutan adzan. Terlihat sederhana namun hal ini sangat penting. Wallahua’lam bishowab

*Tulisan ini berlaku untuk anak-anak muslim, namun dengan esensi yang sama untuk keyakinan-keyakinan lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s