Menyikapi Kaum Difabel; Empati, Simpati, atau Tidak Peduli?

Tanggal 2 April bertepatan dengan Hari Peduli Autis Sedunia dan Hari Buku Anak Internasional. Saya jadi teringat mengenai kaum difabel, kaum difabel adalah sebutan bagi kaum berkebutuhan khusus atau different ability, disingkat difabel bukan difable. Adalah mereka yang terlahir dengan fisik dan atau / biologisnyaberbeda dari normal. Sebelumnya mereka dikenal dengan sebutan disable namun seiring waktu kebijakan nama ini berubah. Mereka bukan tidak mampu, mereka hanya berbeda atau berkebutuhan khusus.

Difabel memiliki hak yang sama seperti pada umumnya, termasuk pendidikan. Undang-undang pun kini memberikan hak kepada kaum difabel untuk bersekolah di sekolah umum, walau pada kenyatannya banyak sekolah yang menolak murid berkebutuhan khusus. Selain itu juga terdapat fasilitas Sekolah Inklusi.

Sekolah inklusi adalah sekolah yang menggabungkan layanan pendidikan khusus dan regular dalam satu sistem persekolahan, dimana siswa berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan khusus sesuai dengan potensinya masing-masing dan siswa regular mendapatkan layanan khusus untuk mengembangkan potensi mereka sehingga baik siswa yang berkebutuhan khusus ataupun siswa regular dapat bersama-sama mengembangkan potensi masing-masing dan mampu hidup eksis dan harmonis dalam masyarakat.

(http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/09/prospek-sekolah-inklusi-sebagai-sekolah-masa-depan/)

Beberapa kali ketika mendengarkan radio, saya mendapati kisah para orang tua yang memiliki anak difabel. Sebagian besar mereka bercerita dengan diiringi tangis. Ada yang karena bingung harus menyekolahkan kemana karena keterbatasan akomodasi atau ekonomi, ada yang karena kesulitan membagi waktu antara bekerja dan mengurus anak mereka seutuhnya, ada yang sangat kesulitan mencari pengasuh untuk kaum difabel, dan yang paling menyentuh saya adalah seorang ibu yang khawatir ketika ia meninggal siapakah yang akan mengurus anaknya kelak.

Ya Allah, mereka sungguh luar biasa. Kelak jika Allah memberikan surga-Nya kepada para orang tua tsb, mereka akan mendapati anak-anaknya yang berkebutuhan khusus ini akan dikembalikan dalam keadaan sempurna, inshaa Allah. KeIkhlasan, kesabaran, dan ketabahan adalah ujian bagi mereka, sedangkan bagi yang tidak mengalaminya langsung akan diuji dengan empati, simpati, ketidak pedulian, atau pem-bully-an. Wallahua’lam bishowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s