1 Kritik pada The Reichenbach Fall – Sherlock (TV Series)

The Reichenbach Fall adalah judul episode terakhir (episode 3) dari seasons 2 Sherlock (TV Series). Episode ini saya rasa adalah titik balik Sherlock, saat ia benar-benar dipertemukan oleh ‘lawan sebanding’ Jim Moriarty. Moriarty adalah ‘consulting criminal’ yang menguasai segala pintu kode rahasia termasuk kode rahasia negara. Tidak ada yang membuatnya tertarik, tidak uang atau kekuasaan, ia hanya ‘haus’ akan lawan yang mampu menandingi kejeniusannya. Dan ia menemukannya dalam diri Sherlock. Ia ingin membuktikan apakah Sherlock sama seperti ordinary people lainnya atau ia pantas dijadikan lawan.

Moriarty menginginkan skenario yang ia buat untuk Sherlock’s Fairy Tale-nya berhasil dengan membuat kesaksian bahwa Sherlock Holmes hanyalah jenius palsu dan pembohong yang membuat sendiri segala kisah kasus yang ditanganinya untuk kemudian ia pecahkan sendiri. Dibalik itu ia menginginkan Sherlock sebagai kriminal sebenarnya dan pada akhirnya ia bunuh diri dan mengakhiri kisah tragisnya. Sekalipun demikian, Moriarty berharap bahwa Sherlock adalah jenius sebenarnya karena jika tidak, maka Moriarty akan kehilangan lawannya yang membuatnya tertantang mengendalikan dunia yang baginya hanya dipenuhi oleh orang-orang biasa. “No…you’re not ordinary…you’re me…you’re me!! Thank you, Sherlock Holmes. ‘Thank you! Bless you.” ucap MoriartyKisah ini diakhiri dengan kematian rekayasa Sherlock dan Moriarty yang terungkap pada seasons 3

Kisah yang diadaptasi dari karya Sir Arthur Conan Doyle ini benar-benar jenius menurut saya🙂. Namun saya ingin memberi satu kritik pada cerita ini. Moriarty membuat rekayasa kasus penculikan anak yang harus dipecahkan Sherlock hingga Sherlock berhasil memecahkan kasus tersebut dengan kejeniusan yang tidak masuk akal bagi orang normal. Masalah itu dimulai dengan kecurigaan polisi yang menyaksikan teriakan anak yang diculik tsb saat melihat Sherlock, orang yang belum pernah ia temui sebelumnya. Mereka mencurigai ‘bagaimana mungkin ada orang yang mampu memecahkan kasus penculikan hanya dari zat kimia yang ada pada jejak kaki dan kini sang anak yang diculik ketakutan melihat sosoknya ?’. Sherlock akhirnya ditangkap karena dicurigai sebagai penculiknya sekaligus untuk membuktikan kebenaran rumor bahwa ia membuat kasus dan menyelesaikannya sendiri untuk memperoleh ketenaran.

Bagian yang saya kritisi adalah bahwa Moriarty sedikit lemah dan obvious pada bagian membuat sang anak yang diculik teriak saat melihat Sherlock (penculik sesungguhnya dibuat sangat mirip dengan Sherlock). Ini sesuatu yang tidak seharusnya terjadi mengingat Moriarty adalah seorang jenius pula seperti halnya Sherlock. Karena Sherlock dikenal sebagai jenius dan tidak mungkin ia membuat kasus yang akhirnya mencurigainya dengan begitu mudahnya. Jika ia ingin menyelesaikan kasus yang dibuatnya sendiri, tidak mungkin ia membuat alur cerita yang lemah seperti itu dan seharusnya polisi yang mengenal kejeniusan Sherlock dengan baik juga akan curiga. Jika Sherlock mau, ia tidak mungkin membiarkan sang anak teriak ketika melihatnya. Sebab Sherlock selalu menyelesaikan kasus dengan sangat rapih.

Setelah menonton film ini ataupun Harry Potter dan Avatar: The Last Air bender, saya merasa mulai dituntun untuk berpikir diluar yang biasanya. Sekalipun saya memberi sedikit kritik pada kisah The Reichenbach Fall, hal itu tidak mengurangi pengakuan saya bahwa mereka yang membuat kisah-kisah tersebut sungguh jenius yang luar biasa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s