Berhati-Hati dengan Apa Yang Tidak Diketahui (Bag.2) – Ibrah Hadits Ifki

Hari ini adalah hari ke-3 saya mengaktifkan kembali laman Facebook. Cukup kaget setiap melihat timeline dipenuhi share link atau status mengenai politik, konspirasi, dll, sesuatu yang selama ini sangat jarang saya temui. Semoga kepekaan kita pada berita dan kondisi negara tidak terpaku hanya pada momentum, tapi memang menjadi kebutuhan informasi.

Sedikit sharing, sejujurnya fenomena ini membuat saya sedikit miris. Menurut saya, orang-orang yang sharing link pada social media (termasuk saya) sebagian besar berada pada tataran grass root yang belum tentu tahu bagaimana kondisi sebenarnya pemberitaan di media. Bisa jadi opini media untuk mengarahkan kita pada suatu pendapat adalah benar, dan bukan tidak mungkin adalah sebaliknya. Berhati-hati, ya itu hanya sekedar saran saya. Semudah mengklik ‘share‘ tapi pertanggung jawaban di hadapan Allah kelak sangatlah berat.

Tulisan ini terkait dengan Berhati-Hati dengan Apa Yang Tidak Diketahui (Bag.1) yang mengutip hadits “Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar” (HR. Muslim). Saya akan sedikit mengutip tentang salah satu kejadian pada Hadits Ifki (tuduhan keji atas Ummul Mukminin Aisyah). Saat Rasulullah gelisah dengan pemberitaan tidak sucinya Aisyah, Rasulullah meminta pendapat beberapa sahabat. Salah satu sahabat yang memberi saran adalah Ali bin Abi Thalib, ia menyarankan agar Rasulullah bertanya pada budak wanita Aisyah.

“… Tanyakan saja kepada budak wanitanya, niscaya ia akan membenarkanmu.” Maka Rasulullah saw. pun memanggil Barirah dan bertanya, “Hai Barirah, apakah engkau melihat sesuatu yang mencurigakan pada diri Aisyah?” Barirah berkata, “Demi Allah yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku tidak pernah melihat sesuatu yang tercela darinya, hanya saja ia adalah seorang gadis belia yang pernah ketiduran saat menjaga roti milik keluarganya, lalu datanglah kambing memakannya.” [1]

Peristiwa ini juga menjadi sebab turunnya QS. An-Nuur ayat 11-19. Pada An-Nuur (24):15, Allah berfirman “(ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.”

Banyak ibrah yang bisa diambil pada peristiwa ini, diantaranya adalah bertanya pada orang yang dapat dijadikan saksi (atau dekat dengan orang yang dituduh) dan ia adalah orang yang jujur, mendahulukan husnudzhan (An-Nuur:12), dan berhati-hati dengan apa yang tidak kita ketahui apapun tentang perkara tsb. Jika sudah terlanjur kita pernah melakukannya, maka jangan kita ulangi lagi “Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang beriman,” (QS An-Nuur:17). Wallahua’lam bishowab

 

1 Prof. DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Biografi Ali bin Abi Thalib (Jakarta: PUSTAKA AL-KAUTSAR, 2012), h.81-82

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s