Memohon Kebaikan Pada Keturunan Kelak

Pada Syawwal tahun ke-10 nubuwah (619 M), Rasulullah saw. pergi ke Tha’if yang berjarak 60 mil dari Makkah disertai Zaid bin Haritsah. Beliau menemui tiga bersaudara dari pemimpin Bani Tsaqif yaitu Abd Yalail, Mas’ud dan Hudaib, anak-anak Amr bin Umair As-Tsaqafi. Beliau menyeru mereka kepada Allah dan bersedia menolong islam, namun ketiganya menolak, Rasulullah pun berkata “Jika memang kalian bersikap seperti ini, maka kuminta sembunyikanlah aku !”

Rasulullah berada di Tha’if selama sepuluh hari. Ia menyeru pada setiap pemuka masyarakat namun tak ada yang menerimanya, mereka bahkan mengusirnya.Ketika beliau hendak pergi, orang-orang jahat dan para hamba sahaya mengikuti beliau. Mereka mengerumuni beliau, mencaci maki, meriaki, dan melempari batu hingga mengenai urat diatas tumit beliau hingga darah basah pada terumpah beliau. Zaid yang membentengi beliau pun ikut terluka parah.

Mereka terus berbuat demikian hingga tiba di kebun milik Utbah dan Syaibah, anak-anak Rabi’ah yang berjarak tiga mil dari Tha’if. Rasulullah lalu duduk dibawah pohon Anggur, seraya berdo’a dengan do’a yang sangat dikenal (dapat dilihat disini). Terketuk hati Utbah dan Syaibah, mereka lalu meminta pembantunya yang beragama Nashrani, Addas, untuk memberikan setandan buah anggur kepadanya. Addas pun memberikannya kepada beliau.

Tatkala beliau sudah menerima buah anggur tsb, Rasulullah mengulurkan tangannya dan berkata, “Bismillah,” kemudian memakannya.

“Kata-kata ini tidak pernah diucapkan penduduk negeri ini,” kata Addas.

“Dari negeri mana asalmu dan apa pula agamamu ?” tanya beliau.

“Aku seorang Nashrani, dari penduduk Ninawy (Nineveh),” jawab pemuda itu.

“Dari negeri orang yang shalih, Yunus bin Matta,” sabda beliau.

“Apa yang tuan ketahui tentang nama Yunus bin Matta ?”

Beliau menjawab, “Beliau adalah saudaraku. Beliau adalah seorang nabi begitu pula aku.”

Addas langsung merengkuh kepala Rasulullah saw., mencium tangan dan kaki beliau.

Melihat kejadian itu, kedua anak Rabi’ah saling berbisik, “Pembantu itu telah dirusaknya.”

“Celakalah kamu! Apa yang telah kamu lakukan?” tanya mereka berdua setelah Addas kembali.

“Wahai tuanku, di dunia ini tidak ada sesuatu pun yang lebih baik daripada orang itu. Dia telah mengabariku sesuatu yang tidak diketahui kecuali seorang nabi,” kata Addas.

“Celaka kamu wahai Addas! Janganlah sekali-sekali dia membuatmu keluar dari agamamu, karena agamamu jauh lebih baik daripada agamanya.”

Rasulullah saw. keluar dari kebun itu dalam keadaan murung, sedih dan hati teriris-iris, menuju Makkah. Setelah berjalan beberapa saat dan tiba di Qarnul-Manazil, Allah mengutus Jibril disertai seorang malaikat penjaga gunung, yang meminta pendapatnya untuk meratakan Akhsyabaini kepada penduduk Makkah.

Al-Bukhari telah meriwayatkan kisah ini dengan sanadnya, dari Urwah bin Az-Zubair, bahwa Aisyah ra. pernah bertanya kepada Nabi saw., “Pernahkah engkau mengalami suatu hari yang lebih berat daripada waktu Perang Uhud ?”

Belaiu menjawab, “Aku sudah mendapatkan apa yang pernah kudapatkan dari kaummu. Namun yang paling berat adalah saat di Aqabah. Saat itu aku menyeru Ibnu Abdi Yalail bin Abdi Kallal, namun, dia menolak apa yang kukehendaki.Maka aku pun pergi dengan muka muram dan sedih. Setelah tiba di Qarnuts-Tsa’aib, yang disana ada segumpal awan yang melindungiku. Aku memandang ke awan itu, yang ada di sana ada Jibril. Dia berseru kepadaku, “Sesungguhnya Allah sudah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan apa yang mereka lakukan terhadap dirimu. Allah telah mengutus seorang malaikat penjaga gunung. Agar engkau menyuruhnya menurut apa yang engkau kehendaki.” Lalu malaikat penjaga gunung itu berseru kepadaku dan mengucap salam, kemudian berkata, “Wahai Muhammad, itu sudah terjadi, dan apa yang engkau kehendaki? Jika engkau menghendaki untuk meratakan Akhsyabaini, tentu aku akan melakukannya.”

Nabi saw. menjawab, “Bahkan aku berharap kepada Allah Dia mengeluarkan dari kalangan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” [1]

Saat Kajian Aqidah 5 April lalu, Ust. Abuyahya Purwanto berkata kurang lebih “Pembantaian warga sipil di Suriah memberi ibrah bahwa jika memang Syi’ah percaya dengan pahamnya, bukankah mereka seharusnya mencontoh apa yang Rasulullah lakukan saat di Tha’if?. Bukankah mereka tidak seharusnya membunuh anak-anak, melainkan mengambil mereka untuk di ‘dakwahi’ dengan paham Syi’ah. Sebaliknya mereka membunuh anak-anak tersebut karena mereka tidak percaya dengan apa yang mereka yakini sendiri. Mereka khawatir jika anak-anak tersebut dibiarkan hidup, kelak mereka akan menuntut balas”

Generasi Rabbani

Bagaimana kecintaan dan do’a Rasulullah kepada ummatnya mendahului rasa kecewa dan sedihnya, adalah pelajaran akhlak yang sangat sulit untuk dicari perbandingannya pada potret ummat muslim saat ini. Maka kita berlindung pada Allah dari perbedaan, rasa marah, kecewa, dan kesedihan yang menghantarkan kita pada kebencian terhadap sesama muslim lainnya. Serta memohon generasi penerus kita kelak adalah para generasi rabbani, yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya. Wallahua’lam bishowab

 

1 Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Sirah Nabawiyah (Jakarta: PUSTAKA AL-KAUTSAR, 2010), h.139-140

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s