Wajah Peradaban Islam Dalam Perkembangan Pendidikan di Indonesia 2039*

“In the old times the west attacked to the east but these days the world has changed, so I will invade the west from the east, to form a single empire and a single rule over the world.” Fatih Sultan Mehmed II

Pendidikan, sebuah manifestasi yang tak dapat dipungkiri akan lahirnya peradaban-peradaban baru di dunia. Sejarah mencatat bahwa sebelum peradaban Barat mengusai dunia seperti saat ini, peradaban islam telah menjadi pionir bagi lahirnya pemikiran-pemikiran kontemporer, ilmu pengetahuan, dan rujukan literatur. Seperti diakui oleh Jacques C. Reister, seorang sejarahwan Barat, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.” Maka tak heran ketika nama-nama perguruan tinggi islam terkemuka kala itu seperti Madrasah Nizamiyah, Universiti Al-Qarawiyyin, Universiti Al-Azhar, Universiti Al-Mustansiriyah, atau Universiti Sankore pernah disebut-sebut sebagai kiblat ilmu pengetahuan. Atau nama-nama cendikiawan muslim seperti Ibnu Sina, al-Biruni, al-Kindi, al-Haitham, al-Khawarizmi, Jabir Ibnu Hayyan, al-Farabi, dan sejumlah muslim lainnya tercatat sebagai saintis paling berpengaruh di dunia (Biography in Dictionary of Scientific Biography, New York 1970-1990).

Sejarah tidak dapat terulang, namun ia  memiliki rhyme-nya, ungkap Mark Twain. Kegemilangan islam akan kembali sesuai janji-Nya “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa…” An-Nur: 55.  Dan satu titik cahaya kegemilangan tersebut –penulis yakini– dapat lahir dari negeri ini, Indonesia.

Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Setiap di penghujung seratus tahun sekali, Allah mengirim seseorang yang menjadi pembaharu dalam agamanya (Islam).” HR. Abu Dawud no.4270. Jika dapat disepakati bahwa Hasan Al-Banna (1906-1949) adalah pemberharu islam sebelum ini, maka akan lahir penggantinya kelak, mungkinkan pada tahun 2049? Wallahua’lam bishawab. Seperti yang dijelaskan oleh Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Demi Kebangkitan Islam, “Yang dimaksud bi ra’sil mi’ah (lafadz yang terdapat di dalam hadits) bukan berarti tahun ke 100 atau tahun 101. Tetapi yang dimaksud adalah akhir-akhir tahun menjelang 1 abad atau awal-awal tahun setelah 1 abad. Oleh karenanya diungkapkan dengan kata ra’si. Namun dalam kenyataan, kita tidak dapat memastikannya. Apakah pengertian ra’sil mi’ah terhitung dari hijrah Nabi Saw ke Madinah (622 M) atau terhitung sejak beliau wafat (632 M) atau terhitung sejak beliau diutus menjadi Rasul (610 M).” Namun demikian, penulis meyakini bahwa pembaharu tersebut akan lahir mengembalikan kejayaan islam kembali.

Tahun 2039 ialah tahun periodik dalam satu abad setelah wafatnya pemberharu islam Hasan Al-Banna. Maka jika dapat diprediksi, akan lahir pemberharu selanjutnya kala itu. Tahun tersebut adalah tahun yang didirikan oleh mereka yang berada pada masa-masa produktifnya, 20 hingga 60 tahun. Maka mereka kelahiran 1979 hingga 2019 adalah mereka calon-calon pembentuk zaman tersebut. Hipotesa bahwa Indonesia adalah negeri yang akan lahir dengan kegemilangan kelak dikarenakan salah satu alasan –yang mungkin dirasa kurang masuk akal– bahwa ia menjadi salah satu negara yang masih mempertahankan pendidikan agama dalam sistem kurikulum. Terlebih pada kurikulum 2013 kini, pemerintah telah menambah jam mata pelajaran pendidikan agama. Lalu mengapa terkesan kurang masuk akal? Karena sekalipun negeri ini masih mencantumkan sekulerisme dan pluralisme dalam sistem pendidikannya, setidaknya ia tetap menjalankan apa yang Allah janjikan dengan kemuliaan “Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum (menuju kemuliaan) dengan Al-Qur’an ini dan dengannya pula akan menjatuhkan kaum yang lain (menuju kehinaan)” HR. Muslim. Seruan Al-Qur’an yang diperdengarkan dan diajarkan pada setiap murid di Indonesia yang sebagian besar adalah muslim, menjadi sebuah tiket kemuliaan yang Ia janjikan. Maka tak seperti negeri-negeri lain yang mengesampingkan nilai-nilai agama, penulis meyakini dengan seruan Al-Qur’an dalam mata pelajaran pendidikan islam, pendidikan Indonesia dapat terangkat.

Hipotesa kedua adalah karena adanya bangunan-bangunan masjid di Indonesia yang tercatat sebagai yang terbanyak di dunia. Sejarawan asal Palestina, Al Tibawi, menyatakan bahwa sepanjang sejarahnya, masjid dan pendidikan Islam adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Di dunia Islam, sekolah dan masjid menjadi satu kesatuan. “Sejak pertama kali berdiri, masjid telah menjadi pusat kegiatan keislaman, tempat menunaikan shalat, berdakwah, mendiskusikan politik, dan sekolah.” Selain itu pendidikan masjid yang diselenggarakan di era kekhalifahan juga telah memberi pengaruh kepada peradaban Eropa melalui sistem pendidikan, universalitas, metode pengajaran, dan gelar kesarjanaan yang diberikan, seperti yang dikatakan oleh George Makdisi, guru besar Studi Islam di University of Pennsylvania.

Pembelajaran Al-Qur’an dan penghimpunan ilmu melalui masjid-masjid adalah dua hal yang tetap terjaga di negeri ini sekalipun dengan berbagai kekurangan yang ada padanya. Namun demikian, keduanya akan mampu menjadikan Indonesia sebagai salah satu poros kebangkitan pendidikan islam di dunia kelak, inshaa Allah.

Bermimpi tentang kemajuan pendidikan Indonesia pada tahun 2039 kelak seperti memproyeksikan diri saya –sebagai penulis– pada umur 48 tahun, inshaa Allah. Seperti halnya menjawab pertanyaan apa yang generasi saya lakukan ketika itu, atau seperti apa keturunan yang saya didik kelak pada usia 20-28 tahun mereka.

Ketika itu saya meyakini bahwa akan saya dapati generasi rabbani dan generasi qur’ani –yang lahir dari kelompok-kelompok dan lingkaran-lingkaran dalam masjid– adalah generasi yang menghiasi sebagian besar wajah negeri ini. Generasi ini terbentuk dari tarbiyatul aulad fil islam (pendidikan anak dalam islam). Pendidikan diajarkan bukan dengan konsep kompetisi untuk memperoleh materialitas hidup tetapi untuk memahami dan semakin meyakini kebenaran firman Allah SWT. Konsep pendidikan ketika itu perlahan telah kembali pada fitrahnya seperti pada zaman kekhalifahan, yakni pendidikan yang sesuai dengan syari’at islam dengan basis logika dan aqidah sebagai poros utamanya.

“Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” Anies Baswedan. Dibedakan oleh keadaan dalam hal ini saya dapat artikan bermacam-macam, bisa perbedaan kemampuan finansial atau bahkan kemampuan fisik. Namun saya sepakat bahwa setiap anak dilahirkan-Nya dalam potensi terbesar dalam diri mereka. Dan adalah kewajiban amir negara untuk memberikan hak-hak mereka. “Seorang imam (khalifah/kepala Negara) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat; ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” HR. al-Bukhari dan Muslim. Maka seperti halnya ketika masa khalifah, pendidikan Indonesia kelak akan ditanggung sepenuhnya oleh negara bahkan hingga perguruan tinggi. Tak terkecuali pula untuk kemajuan sekolah-sekolah khusus seperti Sekolah Inklusi1 yang kurang mendapat perhatian seperti saat ini. Selain memperoleh hak-hak pendidikan, para siswa juga memperoleh hak-hak penunjang diluar pendidikannya. Seperti yang terjadi pada masa Khalifah al-Muntahsir Billah, setiap siswa Madrasah al-Muntashiriah memperoleh beasiswa berupa emas seharga satu dinar2 (4.25 gram emas).

Pendidikan Indonesia ketika itu juga telah mencapai peningkatan infrastruktur dan aspek-aspek pendukung lainnya seperti fasilitas sekolah, peningkatan kualitas pengajar dan pemerataan kualitas pendidikan. Hal ini bukan tidak mungkin terjadi mengingat kian banyaknya NGO yang bergerak dalam peningkatan mutu pendidikan Indonesia dan kian aktifnya gerakan community development dan Corporate Social Responsbility (CSR) dalam membantu peran pemerintah, memberikan optimisme bahwa pendidikan Indonesia 25 tahun mendatang akan jauh lebih baik dari hari ini. Tidak seperti Negara-negara lain yang diprediksi akan beralih menuju teleapprenticeships dimana komunikasi murid dan guru dilakukan melalui online-gadget, para pendidik Indonesia kala itu akan tetap dengan cara tatap muka secara langsung, karena mereka berperan tidak hanya sebagai pengajar namun juga penyalur aqidah, akhlak, dan teladan melalui interaksi langsung dengan para murid. Pendidik ketika itu akan dipandang sebagai ulama, mereka dihormati dan disegani serta dipelihara nasibnya oleh negara. Seperti halnya ketika zaman khalifah Umar bin al-Khaththab yang menggaji seorang guru dengan 15 dinar atau setara dengan sekitar 30 juta rupiah. Maka kualitas pendidik selayaknya pemimpin perusahaan, bertanggung jawab penuh pada apa yang dipimpinnya.

Indonesia tahun 2039 kelak juga dapat diprediksi sebagai negara utama tujuan riset pangan, ekosistem keberagaman flora dan fauna, dan riset terhadap kekayaan alam buminya. Riset teknologi sedikit banyak akan berbaur dengan riset berbasis alam. Buku-buku literasi yang dijadikan rujukan pelajar Indonesia ketika itu adalah karangan para cendikiawan muslim. Buku-buku produksi Barat yang mengajarkan ilmu-ilmu yang bertentangan dengan Islam seperti Teori Evolusi Darwin, Sistem Ekonomi Kapitalis, Liberal, dan Neo-kolonialisme digantikan dengan buku-buku para cendikiawan muslim seperti The Canon of Medicine karya Ibnu Sina, Book of Precious Stone karya al-Biruni, Al-Falsafah al-Ula karya al-Kindi, The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing karya al-Khawarizmi, The Book of Composition of Alchemy karya Jabir Ibnu Hayyan, dll. Dan saat itu, ketika sebagian besar perjanjian-perjanjian neo-kolonialisme Indonesia dengan negara-negara Barat terkait pengelolaan sumber bumi telah selesai (seperti perjanjian 1 abad Indonesia-Freeport dalam pengambil alihan hasil bumi Papua yang selesai pada tahun 2041), Indonesia dapat memulai kembali dan bangkit menuju kemandirian energi yang selama ini dicita-citakan.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” Ar-Ra’ad: 11. Sebuah mimpi tak ubahnya sebuah niat, ia bermakna satu kebaikan. Namun ia tak akan mengubah apapun tanpa suatu kerja dan upaya, kesungguhan ikhtiar, keyakinan yang kuat, dan menghadirkan Allah dalam setiap langkah. Wallahua’lam bishawab.

___________

1) Sekolah inklusi adalah sekolah yang menggabungkan layanan pendidikan khusus dan regular dalam satu sistem persekolahan, dimana siswa berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan khusus sesuai dengan potensinya masing-masing dan siswa regular mendapatkan layanan khusus untuk mengembangkan potensi mereka sehingga baik siswa yang berkebutuhan khusus ataupun siswa regular dapat bersama-sama mengembangkan potensi masing-masing dan mampu hidup eksis dan harmonis dalam masyarakat.(http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/09/prospek-sekolah-inklusi-sebagai-sekolah-masa-depan/)

2) Harga jual dinar tertanggal 17 Februari 2014 pukul 11:39 Rp. 2,056,187, dengan harga belinya Rp. 1,973,940 (http://www.geraidinar.com/)

Literatur

Qardhawi, Yusuf (2008). Demi Kebangkitan Islam. Jakarta: PT. Kuwais International.

Siauw, Y. Felix (2013). Muhammad Al-Fatih 1453. Jakarta: Al Fatih Press.

Yasin, Abu (2004). Strategi Pendidikan Daulah Khilafah (Terjemah dari Ususu Ta’lim fi Daulah al Khilafah). Bogor: Pustaka Thariqu Izzah

Levin, J. (2002). A 2020 Vision: Education in the Next Two Decades. Quarterly Review of Distance Education, 3(1), 105. Retrieved February 12, 2014 from http://www.editlib.org/p/92779.

Sadik, Kusman. 2011. “Pendidikan Islam: Bermutu dan Melahirkan Manusia Unggul”. Media Politik dan Dakwah Al-Wa’ie. No. 130.

http://en.wikipedia.org/wiki/Historic_recurrence

http://www.globalmuslim.web.id/2010/09/sistem-pendidikan-di-era-khilafah-islam.html

http://kusnandarputra.guru-indonesia.net/artikel_detail-32582.html

 

*Tulisan ini saya sertakan dalam Sayembara Karya Tulis Masjid Salman ITB: Wajah Peradaban Islam di Indonesia 2039

Wajah Peradaban Islam dalam Perkembangan Pendidikan di Indonesia 2039.pdf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s