Hukum Hudud Bagi Pezina #1 – Tujuan Hukuman

Menurut Ali bin Abi Thalib, hukum hudud merupakan kafarat (penghapus) dosa bagi pelaku zina. Dari Abu Laila, dari lelaki Bani Hudzail, dari lelaki Quraisy bahwa aku mendengar Ali bin Abi Thalib berkata, “Barangsiapa melakukan zina, maka tegakkanlah atasnya hukum hudud, karena ia merupakan kafarat (penghapus).”Mushannaf Abdul Razaq (13355)

Dalam riwayat lain dikatakan, “Aku pernah bersama-sama dengan Ali pada saat sedang merajam Syarahah. Lalu aku berkata, ‘Wanita ini telah mati dalam kondisi jelek’. Lalu Ali memukul saya dengan batang korma atau dengan cambuk yang ada di tangannya. Pukulan tersebut cukup menyiksaku. Lalu aku berkata, ‘Pukulan Anda telah menyiksaku’. Ali berkata, ‘Apakah saya telah menyiksa Anda’. Lalu Ali menjelaskan, ‘Wanita itu tidak akan ditanya tentang dosa yang telah dilakukan untuk selamanya, sebagaimana dosa hutang.”‘ Mushannaf Abdul Razaq (13353)

Pendapat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ini berdasarkan hadits Ubadah bin Ash-Shamit, “Kami bersama Rasulullah saw. dalam sebuah majelis. Lalu beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang melakukan dosa, maka harus ditegakkan sangsi atas dirinya, karena sangsi tersebut merupakan kafarat (penghapus) dosa bagi dirinya. Barangsiapa yang melakukan suatu dosa, maka Allah akan menutupi atasnya. Jika Allah berkehendak, maka Allah akan memaafkannya. Jika Allah berkehendak lain, maka Allah akan menyiksanya.”‘ HR. Muslim, Kitab Al Hudud, nomor 709 (3/1333)

Diantara tujuan syariah adalah menjaga kehormatan (al-‘rrdh) dan keturunan (nasab). Tidak menjaga maqashid akan menyebabkan mafsadat. Hal tersebut bisa disebabkan kelalaian dan pelanggaran. Sebagaimana kita ketahui bahwa apa yang akan terjadi akibat dari peperangan, saling membunuh, korupsi, pencampuran garis keturunan, terputusnya keturunan. Para pezina tidak pernah menginginkan anak dari perzinahannya. Mereka hanya menginginkan kesenangan sesaat. Bila kemaluan tidak dijaga hingga menikah, maka akan tersebar dekadensi moral dan munculnya kejahatan zina. Keduanya akan menimbulkan kerusakan moral, penyakit, turunnya musibah, lahirnya malapetaka dan cobaan. Jika semua itu tidak dicegah, maka firman Allah dalam surat Al-Israa akan terbukti”

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” Ayat tersebut cukup menjadi peringatan buat kita. Maqashid Syariah, Yubi, hlm.255

Syariat islam diturunkan untuk mengatur kehidupan. Oleh karenanya, para khulafaur rasyidin selalu berusaha menjalankan aturan syariat agar kehormatan dan keturunan dapat terjaga. [1]

1 Prof. DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Biografi Ali bin Abi Thalib (Jakarta: PUSTAKA AL-KAUTSAR, 2012), h.414-415

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s