Allah Maha Romantis – Ibrah Kisah Nabi Ayyub as

Meminjam istilah Azhar Nurun Ala, Tuhan Maha Romantis, saya ingin berbagi kisah betapa Maha Baik dan Maha Romantis-nya Allah dalam kisah Nabi Ayyub a.s.🙂. Nabi Ayyub adalah salah satu Nabi yang dipuji Allah dengan kesabarannya yang luar biasa.

Allah SWT menyebut Ayyub as yang bergandengan dengan kesabaran, setiap kali salah satunya disebutkan pasti yang lainnya pun ikut menyertainya, sehingga Ayyub as menjadi perumpamaan dalam kesabaran, mereka berkata, “Kesabaran Ayyub”. Beliau bersabar atas penyakit yang menimpa badannya, juga keluarga yang meninggalkannya. Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” QS.Al-Anbiya’: 83-84

[1]Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya[2], “Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana[3].” (Allah berfirman), “Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipat-gandakan jumlah mereka sebagai rahmat dari Kami[4] dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat[5]. Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah[6]. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba[7]. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)[8]. QS. Shaad: 41-44

Allah SWT telah menjadikan Ayyub sebagai suri tauladan dengan keutamaan yang Allah berikan kepadanya, Allah mengatakan, “Dan ingatlah” Demikian pula Allah memuliakan Ayyub as, Allah meng-idhafah-kan (menghubungkan) namanya kepada-Nya sebagai kemuliaan untuknya, Allah menyatakan, “Hamba kami Ayyub”

Allah pun mengangkat derajatnya yakni ketika Allah menjawab semuanya, lalu mengembalikan kesehatan juga keluarganya, dan Allah tambahkan kepadanya. Allah memberikan jalan keluar untuknya atas sumpah yang diucapkannya, juga dilema pelanggaran sumpah, juga sebagai kemuliaan atas sumpahnya yang indah, lantas Allah pun bersaksi  dengan persaksian yang haq, “Sesugguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia sangat taat (kepada Rabbnya).”

Rasulullah pun mengisahkan kesabarannya, Nabi saw. bersabda:

Nabiyullah Ayyub tertimpa musibah yang sangat besar selama 18 tahun, orang dekat maupun jauh enggan bersamanya, kecuali dua orang dari kawannya yang pergi di pagi dan sore hari,
Salah seorang diantaranya berkata kepada yang lain pada suatu hari, “Tahukah engkau, bahwa Ayyub telah melakukan dosa yang tidak pernah dilakukan oleh seorang pun?”
Kawannya berkata, “Apakah itu?”
Jawabnya, “Sudah delapan belas tahun dia tidak dikasihi oleh Allah SWT, lantas terbuka apa yang terjadi padanya.”
Setelah mereka berdua pergi menghadap Ayyub, maka salah seorang diantara mereka tidak sabar, lantas menceritakannya kepadanya, Ayyub berkata, “Aku tidak tahu apa yang kalian ungkapkan, hanya saja Allah Mahatahu, bahwa aku pernah memerintah dua orang yang sedang berseteru, lantas keduanya mengingat Allah, aku pun pulang ke rumah dan mengkafarat dosa keduanya karena takut jika dia mengingat pada selain jalan Allah SWT.”
Adalah Ayyub pergi untuk memenuhi kebutuhannya, seusai kebutuhan itu terpenuhi sang istri menahannya, pada suatu hari dia tidak ada bersama sang istri, lantas diwahyukan kepadanya, “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.” Sang istri pun merasa bahwa sang suami tidak ada, akhirnya dia berusaha mencari-cari, padahal Ayyub datang menghadap kepadanya dalam keadaan bersih dari bencana yang menimpanya, bahkan dalam keadaan yang lebih baik, kalau sang istri melihatnya dia berkata, “BarakAllahu fik, apakah engkau melihat seorang Nabi yang tertimpa musibah, sungguh dia menyerupai Anda jika berada dalam keadaan sehat ?”
Jawabannya, “Akulah dia”,
Kala itu beliau membawa dua wadah untuk menumbuk gandum semacam Qumh, dan gandum semacam Sya’ir, lantas Allah mengirimkan dua awan, ketika salah satunya diatas wadah Qumh, maka awan tersebut memenuhi wadah tersebut dengan emas sampai penuh, dan yang lainnya mengisi wadah Sya’ir dengan perak sampai penuh
(Shahih, diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya (3617), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (III/374-375), Al-Hakim (II/581-582), dan Ibnu Hibban dalam shahihnya (2887), juga yang lainnya dari beberapa jalan dari Nafi’ bin Yazid, dari Aqil bin Khalid, dari Ibnu Syihab darinya.
Komentar saya, “Sanadnya shahih, dan para perawinya merupakan perawi Asy-Syaikhani kecuali Nafi’ bin Yazid, dia tsiqah yang hanya dijadikan perawi Muslim.”

Dan banyak riwayat Israiliyyah dan riwayat tidak jelas yang mengabarkan cerita tentang kesabaran Nabi Ayyub akan tetapi tidak shahih, demikian pula tentang derita yang menimpanya, sebagaimana didapatkan oleh banyak masyarakat, mereka menceritakan sesuatu yang sesungguhnya tidak mereka ketahui, bahkan dengan beberapa tambahan, dan hanya Allah SWT-lah yang Mahatahu. [1]

Lalu bagian mana yang romantis? Silahkan lihat kembali bagian yang saya garis bawahi. Tafsir surat Shaad ayat 44 catatan kaki 6, berdasarkan http://www.tafsir.web.id/ adalah

Pada suatu ketika Ayyub ingat terhadap sumpahnya, bahwa dia akan memukul isterinya seratus kali jika sakitnya sembuh disebabkan istrinya pernah lalai mengurusinya sewaktu dia masih sakit. Akan tetapi timbul dalam hatinya rasa kasihan dan sayang kepada isterinya yang salehah sehingga dia tidak dapat memenuhi sumpahnya. Oleh sebab itu turunlah perintah Allah seperti yang tercantum dalam ayat 44 di atas, agar dia memenuhi sumpahnya, namun dengan tidak menyakitkan istrinya, yaitu memukulnya dengan seikat rumput sekali pukul. Dengan begitu, Ayyub telah melaksanakan sumpahnya dan tidak melanggarnya. Ini merupakan jalan keluar bagi orang yang bertakwa kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aala dan kembali kepada-Nya.

photographyAllah mengetahui betapa Ayyub mencintai istrinya dan timbul keinginan untuk melanggar sumpahnya. Namun Allah mengingatkannya untuk tetap memenuhi sumpahnya dari arah yang tidak disangka-sangka yaitu dengan mengumpulkan seikat rumput (sebagai pengganti jumlah seratus) dan memukul istrinya dengan sekali pukul. Karena Ayyub tidak mengatakan pada janjinya dengan apa ia akan memukul istrinya. Selain itu, Allah mempertemukan keduanya kembali dengan cara yang begitu elegan. SubhanAllah, Allah Maha Romantis bukan ?🙂

1 Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Meniru Sabarnya Nabi (Bogor: Pustaka Darul Ilmi, 2009), h.133-137

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s