Not Just A Film #2 Ender’s Game

“When I understand my enemy well enough to defeat him, then in that moment, I also love him” A.E. Wiggin

Ender’s Game adalah film science fiction terbaik yang pernah saya saksikan. Film ini diangkat dari novel bestseller berjudul sama karya Orson Scott Card. Andrew Ender Wiggin adalah seorang remaja jenius dengan kemampuan berpikir jauh melebihi anak seusianya. Ia adalah ‘si ketiga’ (yang seharusnya tidak dilahirkan mengingat kebijakan yang hanya mengizinkan dua anak untuk menstabilkan populasi), kakak pertamanya Peter Wiggin dan kakak keduanya Valentine Wiggin merupakan jenius pula. Ia menjadi kebanggaan karena berhasil diterima di International Fleet, semacam sekolah militer yang melatih murid-murid tercerdas dengan jiwa kepemimpinan yang tinggi. Peter Wiggin dikeluarkan dari sekolah tersebut karena tidak mampu mengendalikan emosi dan mudah terlibat perkelahian, sedangkan Valentine Wiggin dianggap terlalu berbelas kasih dan lemah hati untuk dijadikan pemimpin. Ender berada pada pertengahan keduanya, dan dalam jalannya cerita Valentine berpengaruh banyak pada psikologis Ender, ia mampu membaca Ender melebihi dirinya sendiri.

Ender adalah seorang gifted child, self-sufficient, berpembawaan tenang, dan mampu membaca serta melihat apa yang orang lain tidak pernah pikirkan sebelumnya. Menjadi ‘si ketiga’ dan dengan kecerdasan yang luar biasa, ia kerap kali menjadi sasaran pem-bully-an. Namun Ender adalah pribadi pemberani dengan fisik yang kuat dan mampu melawan siapapun yang ingin menyakitinya kecuali terhadap kakaknya, Peter.

“You might be thinking of ganging up on me. But just remember what I do to people who try to hurt me… Knocking him down was the first fight. I wanted to win all the next ones too. So they’d leave me alone”

Ender menjatuhkan lawannya pada perkelahian pertama bukan untuk membuktikan kehebatannya melainkan agar lawannya tidak kembali menyakitinya pada perkelahian selanjutnya. Colonel Griff melihat potensi besar dalam diri Ender. Ia lalu merekrutnya untuk masuk Battle School, sebuah sekolah diluar angkasa yang melatih anak-anak terpilih untuk akhirnya dipilih sebagai commander. Dikisahkan dalam cerita ini 50 tahun sebelumnya Bumi pernah diserang untuk kedua kalinya oleh Formics dan akhirnya berhasil dimenangkan dibawah kepemimpinan Commander Mazer Rackham. Dipastikan Formics akan kembali untuk ketiga kalinya dalam waktu dekat, dan Battle School mempersiapkan pengganti Mazer Rackham yang dikabarkan telah meninggal.

Dalam perjalanan dari Bumi menuju Battle School, Ender bersama ketujuh belas anak lainnya sempat berada dalam zero gravity, dan melihat Colonel Griff melayang membuat Ender tersenyum. Berikut adalah salah satu narasi yang menggambarkan kecerdasan Ender.

Colonel Griff : what are you doing Wiggin?
Ender : nothing Sir
Colonel Griff : something funny? I asked you question, Launchie!
Ender : Sir, the way you’re floating, horizontal, I thought that was funny
Colonel Griff : really, why?
Ender : because in zero gravity, there is no right side up. You might think you’re vertical and we may be horizontal
Colonel Griff : is that funny?
Other children : Sir, no Sir!
Colonel Griff : yes it is. Alai, do you know what he’s talking about?
Alai : yes Sir
Colonel Griff : no you don’t. There’s only one kid in this launch with any brains at all so far, and that’s Ender Wiggin

Perlakuan berbeda Colonel Griff terhadap Ender membuatnya dijauhi teman-temannya. Hingga pada akhirnya ia membuktikan bahwa ia sendiri pun tidak ingin diperlakukan berbeda, dan akhirnya teman-temannya menjadi begitu respect terhadap dirinya. Kisah ini berjalan cepat seiring dengan perjalanan Ender yang seorang quick learner. Ia menempati top score dalam seluruh pelajaran, menjadi satu-satunya yang dipromosikan masuk Salamander Army, dan tak lama menjadi Commander Dragon Army yang memenangkan pertandingan melawan Salamander Army dan Leopard Army sekaligus dengan cara yang tidak pernah dipikirkan orang lain.

Titik balik seorang Ender adalah ketika Bonzo, Commander Salamander Army, mengajaknya berkelahi karena rasa irinya terhadap Ender. Perkelahian ini berakhir dengan kematian Bonzo –yang tanpa disengaja– yang dirahasiakan oleh Colonel Griff dan Major Anderson untuk menjaga psikologis Ender. Namun demikian naluri Ender mengetahui bahwa Bonzo tidak dapat diselamatkan. Ia merasa begitu bersalah dan tidak yakin dengan semua yang ia lakukan selama ini, ia melihat Peter dalam dirinya dan ia membenci hal tersebut. Selain itu setelah lebih dari 3 bulan mengikuti training, ia merasa tidak mengenal musuhnya sama sekali terlebih membenci mereka. Selama masa training pula ia tidak diizinkan untuk berhubungan dengan keluarganya termasuk Valentine. Ia lantas mengancam Colonel Griff untuk dapat bertemu dengan kakaknya untuk membuatnya tenang, jika tidak ia akan berhenti,

“I’m not so sure. I won’t play this game anymore. I quit. What are you (Colonel Griff) gonna do? waste millions on a loser?”

Pertemuan Ender dengan Valentine mengungkapkan apa yang sbenarnya Ender rasakan serta memberi clue alur cerita selanjutnya.

Ender : I’ve been sitting by Bonzo’s bed, waiting for him to wake up. But he may never wake up.
Valentine : Ender, he attacked first
Ender : and I fought back, just like Peter thought me. I’ve had a lot of fights, Val. I’ve won because I’ve always understood the way my enemy thinks. And when I truly understand them…
Valentine : … you also love them
Ender : I think it’s impossible to truly understand someone and not love them the way they love themselves. But in that moment…
Valentine : … you beat them
Ender : I destroy them. I make it impossible for them to ever hurt me again
Valentine : Ender, they want me to talk you into going back
Ender : I told them I won’t cooperate
Valentine : I don’t think you’re hiding here just because you care about Bonzo. I think you’re hiding here because you’re afraid. Afraid you don’t know about your enemy. Afraid you might lose. But what if you’re the next Mazer Rackham ?. You can’t hide here forever. But if you stay here, if you don’t try, then we will all be lost.
Ender : … I’ll miss you
Valentine : I’ll miss you too

Bagaimana selanjutnya Ender ‘menghadapi’ musuh yang tidak ia kenal dan bahkan –ia duga– ia sayangi?. Seorang remaja yang dilahirkan untuk misi besar yang orang lain tidak mampu melaksanakannya, Ender Wiggin, berusaha ‘menghadapi’ musuhnya dengan cara yang ia yakini, walau takdir pada akhirnya berkata lain.

Ender’s Game tidak seperti cerita pada umumnya, ia tidak menceritakan mengenai seorang heroic atau pertentangan massif antara tokoh protagonis dan antagonis. Ia menceritakan tentang pertentangan naluri dan tindakan, kecerdasan, strategi, kerja sama, kontrol emosi, persaudaraan, persahabatan, dan kepemimpinan –yang banyak disinggung dalam film ini. Akhir cerita ini juga tidak seperti tebakan kebanyakan orang, film ini hadir dengan nilai berbeda dan bermakna lebih menurut saya. Well, it’s not such an ordinary film, I really recommend you watch it🙂

“It shows that people, no matter how perfect they may be, always have a darker side to them, it’s really down to the audience to decide what they want to get out of it… because there’s so much you can.” – Asa Butterfield as Ender Wiggin

2 thoughts on “Not Just A Film #2 Ender’s Game

  1. Pingback: List of Not-Just-A-Films | mari berbagi :)

  2. Pingback: List of Not-Just-A-Film | mari berbagi :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s