Tentang Pilpres 2014

Colonel Graff: We won! That’s all that matters
Ender: No. The way we win matters

– Ender’s Game Film

Pernahkah terpikir olehmu suatu saat setelah 20 Oktober 2014, kita mungkin akan berkata “Kalau saya tahu jadinya akan begini, saya tidak akan memilih dia” kepada capres-cawapres yang kita pilih dan mereka menang, atau pernyataan “Ternyata dia tidak seburuk seperti saya kira” pada capres-cawapres yang tidak kita pilih dan mereka menang?

Pernahkah terpikir olehmu bahwa kecenderungan kita terhadap calon tertentu adalah atas kehendak-Nya?
Wajar jika para pedagang kaki lima di Solo yang pernah diundang pertemuan lebih dari 50 kali ke kediaman Pak Jokowi, akan memilih beliau menjadi Presiden
Sama wajarnya ketika puluhan sandera yang pernah dibebaskan Pak Prabowo dalam peristiwa Timor-Timor, akan memilih beliau menjadi Presiden
Wajar ketika seseorang yang untuk memeroleh Rp.10.000 per hari dengan susah payah akan cenderung lebih tidak suka pada Pak Prabowo dengan gaya hidup berkudanya yang mewah
Sama wajarnya ketika seorang anak SMA yang menguasai lebih dari 2 bahasa asing dengan sangat lancar akan cenderung lebih tidak suka pada Pak Jokowi dengan kemampuan bahasa asingnya yang tidak begitu lancar
Mengapa? Karena kita melihat dari perspektif berbeda, pengalaman berbeda, kontak batin yang berbeda, dan prasangka yang berbeda.
Dan tidak pernah dibebani dosa jika kita tidak memilih calon ini atau calon itu, selama ada hujjah yang kuat atas pilihan kita

Siapa yang kita pilih penting, tapi jauh lebih penting dari itu adalah cara kita ‘memenangkan mereka’
Cobalah melihat mereka sebagai objek, bukan subjek. Bersikap terbuka dan jauhkan defensive. Tidak perlu ‘ikut-ikutan’ menyebarkan berita tendensius yang menyudutkan tanpa ada niatan perbaikan.

Tidak pernah seseorang hanya memiliki kelebihan sedang yang lain hanya memiliki kekurangan.
Lihat kebaikan keduanya dengan imbang dan tentukan mana yang (kira-kira) lebih banyak memberi manfaat dan lebih sedikit keburukannya.
Keduanya adalah lawan tanding, bukan musuh tanding. Tujuan mereka sama, untuk perbaikan Indonesia.
Kita tidak pernah bisa melihat isi hati seseorang, kecuali apa yang nampak padanya. Maka dahulukan prasangka baik sesulit apapun itu.

Hentikan ejekanmu pada calon yang tidak kamu pilih, karena banyak kebaikannya yang tidak kamu akui.
Hentikan pujian berlebihanmu pada calon yang kamu pilih, karena banyak kekurangannya yang tidak kamu akui.

Percayakah kalian bahwa ‘Rakyat adalah cermin pemimpinnya’ atau sebaliknya ‘Pemimpin adalah cermin rakyatnya’
Selama mindset berpikir dan akhlaq kita sebagai rakyat masih buruk, maka jangan salahkan bahwa pemimpin yang kita pilih akan bersikap sama.
Ini bukan tentang siapa yang menang, tapi bagaimana ‘cara kita memenangkannya’

Mari perbaiki akhlaq Indonesia bersama🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s