Hingga Pada Satu Titik

Tepat 50 hari blog ini sama sekali tidak diisi dengan tulisan apapun, bukan karena tidak ingin tapi entah mengapa dua bulan terakhir saya sama sekali tidak bisa menulis. Seperti halnya facebook dan twitter, saya sangat jarang ‘mengungkapkan pendapat’. Saya lebih sering men-share sesuatu. Banyak orang yang dalam kehidupan nyata tidak banyak bicara tetapi sebaliknya banyak berpendapat dan meng-update sesuatu dalam social media. Saya rasa mereka mungkin lebih mudah menulis dibandingkan bicara tentang apa yang mereka rasakan. Saya rasa saya pun demikian, hanya saja saya tidak terlalu bersahabat dengan social media.

Terkadang kita membuat orang lain salah paham dengan apa yang kita tulis atau apa yang kita katakan. Terkadang pula kita salah memahami diri sendiri dan membuat orang lain salah memahami diri kita. Itu yang seringkali membuat saya berpikir ulang ketika mengungkapkan sebenar-benar apa yang saya pikirkan. Setiap orang yang mengenal saya dengan baik akan tahu bahwa saya kritis dan seringkali banyak bertanya. Namun sejak dua bulan terakhir saya mulai membiasakan diri untuk diam. Khawatir. Seringkali saya bertanya pada diri saya sendiri, apakah pertanyaan tsb saya ajukan karena saya ingin benar-benar mengetahui jawabannya, ataukah saya hanya ingin tahu pendapat orang yang saya tanyai, ataukah karena saya ingin tahu reaksi orang-orang sekitar ketika saya bertanya demikian.

Lelah berdebat, lelah menanggapi, lelah membaca notifikasi, lelah menunggu tanggapan orang lain. Lelah membiarkan akhlaq yang masih lemah ini untuk bertarung dalam argumen yang sebenarnya tidak untuk diperdebatkan. Karena saya percaya bahwa seringkali dalam hidup kita mencintai sesuatu yang saling beririsan, ketika kita mencintai satu hal disaat yang sama kita bisa sama mencintainya dengan hal yang lain. Karena ada saat ketika keduanya memang bukan untuk dipilih tapi untuk didamaikan dan diseimbangkan.

Banyak hal yang ingin saya tinggalkan pada blog ini, berbagai kebaikan, inspirasi, senyuman, dan kisah-kisah perbaikan. Saya sadar ‘Proyek Hidup’ ini akan berjalan seperti halnya diri saya berjalan. Ada satu saat ketika saya berbicara tentang betapa indahnya Islam, sedang saat lain saya berbicara tentang sisi kehidupan saya pribadi, lalu berputar tentang passion, atau hanya sekedar tulisan selingan. Saya tidak tahu apakah Allah meridhai semua yang saya tinggalkan pada blog ini. Hingga pada satu titik saya sadar bahwa semua ini hanya ikhtiar kebaikan yang saya lakukan dikarenakan kecintaan saya untuk menulis. Saya butuh kalian sebagai pengingat, ya pengingat bahwa semua ini adalah ikhtiar kebaikan, insyaa Allah. Ikhtiar kebaikan yang harus diperjuangkan bukan untuk mendapat simpati orang lain, namun semata-mata untuk memperoleh ridha-Nya. Maka mari luruskan niat bersama🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s