Kemiskinan Indonesia Dulu dan Kini

“Dulu saya miskin,” kurang lebih kata Pak Dahlan Iskan dalam Indonesia Baru di SCTV sekitar empat bulan lalu, “tapi saya tidak sengsara. Karena kami (keluarga saya dan sekitar) sama-sama miskin”. Ya, kemiskinan Indonesia dulu dan kini jauh berbeda. Jurang pemisah antara kaya dan miskin semakin lebar. Jika pada orde baru kemiskinan Indonesia lebih dikarenakan oleh kekuasaan rezim pemerintah, maka kemiskinan Indonesia kini lebih disebabkan karena mental manusianya walau andil pemerintah sebagai salah satu penyebabnya pun tidak dapat dipungkiri.

Ibu saya sering bercerita bahwa persoalan perut dan pendidikan adalah dua hal yang menjadi tujuan utama rakyat Indonesia yang lahir era 50-60an, begitupun dengan ibu saya. Tak perlu makanan mewah atau enak, yang penting layak dan tidak kelaparan. Sedangkan pendidikan tinggi adalah pilihan yang harus diperjuangkan dengan keras saat itu. Istilah beasiswa sangat jarang didengar maka kerja keras untuk membiayai sekolah adalah prioritas kedua setelah makan.

Dan kini kita hidup dalam zaman dengan begitu banyak distraksi tujuan hidup. Food, fun, fashion, gadget, social club, dan berbagai unsur life style lainnya yang menawarkan gaya hidup konsumtif. Saat makan tidak hanya tentang mengisi perut tapi juga penanda taraf sosial tertentu, begitupun dengan yang lain. Bukan hal yang perlu diperdebatkan tentang bagaimana perubahan era ini terjadi, melainkan untuk dihadapi dengan arif.

Seringkali saya miris ketika melihat pengamen yang memiliki gadget yang cukup wah bagi saya, atau ketika melihat pengemis yang menjadikan anaknya sebagai alat penarik simpati yang setelahnya sang anak tidak didorong untuk sekolah melainkan untuk menjadi pengamen atau pengemis juga. Saya paham ini tidak sepenuhnya salah mereka, namun sedikit kesadaran untuk mengubahnya jauh lebih baik dari sekedar pengabaian. Mungkin itu salah satu sebab Steve Jobs berpendapat tentang kedua orang tuanya “Paul and Clara are 100% my parents. And Joanna and Abdulfatah are only a sperm and an egg bank. It’s not rude, it is the truth.” Karena anak adalah tanggung jawab orang tua, tidak hanya untuk dilahirkan tapi juga untuk dididik dan dibesarkan dengan baik. 

Sumber gambar: http://www.mediawarga.info

Maka ketika pendidikan yang baik tidak lagi menjadi tujuan hidup, kemiskinan itu akan tampak tidak hanya dalam penampilan melainkan juga dalam pola pikir. Maka bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu, kata Andrea Hirata. Ya bermimpi dan berikhtiarlah untuk kehidupan yang lebih baik dengan pendidikan, tanpa peduli apa pekerjaan orang tua kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s