‘Mencukupkan’ Dunia

Kalaulah setiap apa yang kita terima berhak untuk kita habiskan, tentulah Rasulullah akan menggunakan hak seperlima harta rampasan perang yang ia miliki seluruhnya. Kalaulah kenikmatan dunia yang Allah berikan sudah cukup membuat kita bahagia, tentulah Rasulullah tidak akan meninggalkan rumahnya dan memilih berkhalwah di Gua Hira. Kalaulah naiknya kepemimpinan membuat kehidupan perekonomian seseorang meningkat, tentulah Umar bin Abdul Aziz dan Umar bin al-Khaththab tidak akan menahan perutnya. Jika semua yang Allah berikan memang untuk dihabiskan dan dinikmati, lantas mengapa para Ahli Syurga justru membatasinya?

Sebab kecintaan mereka bukan pada kenikmatan dunia sebesar apapun, melainkan pada ridha-Nya. Ayah saya suatu ketika berpesan “Rul, cobalah puasa keinginan. Selama ini kita selalu punya banyak keinginan duniawi, hari ini ingin makan ini, besok ingin makan itu, bulan ini ingin beli baju ini, bulan depan ingin ini dan itu. Tidak ada habisnya, selesai satu keinginan berderet keingan lain menanti. Apakah boleh? Tentu boleh selama tidak berlebihan. Tapi syurga tidak dikejar dengan hal-hal mubah, melainkan sunnah. Jika ingin syurga, ikutilah mereka yang sudah dijamin-Nya. Karena mereka mengejar taqwa bukan dunia, hingga kamu akan lihat dunia tergopoh-gopoh mengejarmu dan akhirnya menyerah untuk menggiurkanmu. Berlatihlah”. Saya mencobanya sedikit demi sedikit, dan hasilnya sungguh luar biasa, cobalah🙂

Apa yang sedikit tapi mencukupi, lebih baik daripada banyak tapi melalaikanmu” HR. Abu Dawud

Ada orang yang bisa membeli makanan sebanyak apapun yang ia inginkan, tapi ia tidak akan mampu memakan semuanya karena Allah sudah batasi kapasitas perutnya. Ada orang yang bisa membeli kendaraan sebagus dan sebanyak apapun, tapi ia hanya akan bisa menggunakan satu kendaraan dalam satu waktu. Ada orang yang bisa membeli perhiasan sebanyak dan semahal apapun, tapi tidak mungkin ia menggunakan seluruhnya sekaligus. Manusia berhak mengejar banyak, dapat pula memiliki banyak, tapi Allah telah menciptakan mereka hanya untuk ‘cukup’.

Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” QS.Al-Maidah: 3.

“Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka.” QS.Al-Fatihah: 6-7. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata, “Nikmat Allah yang paling besar terhadap mereka adalah perintah-Nya kepada mereka untuk beriman dan hidayah yang Ia berikan kepada mereka. Merekalah orang yang paling besar nikmatnya secara mutlak. sumber

Dalam Al-Maidah ayat 3, Allah menjelaskan bahwa cukupnya nikmat yang Ia berikan pada hamba-Nya adalah dengan kesempurnaan Islam. Bukan dengan dunia dan seisinya, maka ketika manusia mengejar dunia, mereka tidak akan pernah merasa cukup. Seperti dalam hadits Rasulullah “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga…” HR. Bukhari no.6438. Maka ketika merasa cukup akan dunia semakin terasa sulit, ingatlah perkataan Rasulullah “Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” HR. Bukhari no.6446 dan Muslim no.1051.

Hati yang merasa cukup

 

 

 

 

 

unknown source

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah puas (dengan pemberian-Mu), dan dari doa yang tidak dikabulkan.” HR. Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu

Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina – Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina” HR. Muslim no.2721. An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, ”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, 17/41, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s