Memilih Buku Anak

Sebelum mampu berbicara dan berjalan, setiap anak dilahirkan terlebih dulu untuk mendengar dan melihat. Itulah mengapa mereka memiliki kemampuan luar biasa dalam meniru dan mengingat apa yang ia dengar dan yang ia lihat. Konsep inilah yang banyak digunakan para ilmuan dan orang tua untuk mengembangkan kecerdasan dan penanaman akhlaq pada anak-anak terutama dalam usia golden age mereka, termasuk dalam menentukan metode terbaik bagi para Tahfiz Al-Qur’an.

Menurut Piaget, ahli psikologi perkembangan –yang saya kutip dari buku “10 Bersaudara Bintang Al-Qur’an”– usia 0-2 tahun adalah masa sensorimotorik, sang bayi menyusun pemahaman dunianya dengan mengoorganisasikan pengalaman indra sensorik (seperti melihat dan mendengar) dengan gerakan motorik otot mereka (seperti menyentuh). Pada usia 2-7 tahun, adalah tahap pra operasional konkret dimana anak mulai merepresentasikan dunia dengan gerakan (psikomotorik), kata, dan gambar. Selanjutnya pada usia 11 hingga dewasa adalah berkembangnya fase atau tahap operasional formal, mereka mulai berpikir dengan cara abstrak, idealistis, dan logis sehingga mereka memiliki pengetahuan jauh lebih baik dalam mempersepsikan sesuatu dan menyimpannya dalam otak.

Berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuan dunia seperti yang telah Piaget paparkan, memberikan pertimbangan sangat besar pada media-media yang digunakan untuk mengoptimalkan kecerdasan dan aklaq anak-anak, salah satunya adalah media buku. Hampir seluruh buku anak yang dapat kita temui di pasaran adalah buku bergambar dengan sedikit tulisan dan sajian ilustrasi yang menarik, baik itu dalam bentuk komik, story telling bergambar, science series, dll. Mengapa? Karena gambar jauh lebih dapat menarik perhatian anak dan lebih mudah dicerna dalam ruang imajinasi mereka disamping mereka belum dapat membaca, hal ini juga dipaparkan oleh Brigs.

Perkembangan buku anak kini pun semakin pesat, mulai dari cara penyajiannya, media pembantu, pemilihan bahan yang digunakan, dll. Hingga terciptalah berbagai jenis buku seperti board book (buku dengan kertas hard cover khusus untuk balita yang masih bereksplorasi dengan motoriknya), bilingual book (buku yang disajikan dalam dua bahasa atau lebih–multilingual book), audio book (buku audio yang disajikan bersamaan dengan teks audio tsb, dapat juga disebut sound book), activity book (buku yang dilengkapi dengan berbagai aplikasi interaktif seperti game, puzzle, quis, gambar, dll. Buku ini terbagi atas colouring book, game book, dan puzzle book), dan yang terakhir yang menurut saya sangat menarik adalah pop-up book (buku kreatif 3D yang sangat membantu memperkaya imajinasi anak terhadap jalannya cerita). Jika kalian pernah menonton film Extremely Loud & Incredibly Close, ada scene dimana Oskar Schell membuat sendiri activity book-nya yang menggabungkan berbagai aplikasi kreatif, atau kalian juga dapat menemukan activity book berupa game dalam film Jumanji :)

Pemilihan beragam cara penyajian buku dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan ketertarikan anak, namun yang jauh lebih penting adalah memilih konten yang sesuai dengan nilai dan falsafah yang ingin ditanamkan pada anak. Saya pribadi kelak insyaa Allah akan memilih buku yang menanamkan nilai iman sejak balita terhadap anak, tidak hanya sekedar princess fairy tale yang saya rasa tidak sesuai untuk mereka. Mengapa? karena pada usia-usia tsb, tidak tepat untuk ditanamkan tentang kisah romance atau imajinasi illogical yang didukung dengan gambar yang belum pantas mereka rekam, seperti The Little Mermaid (pada pakaian putri duyung dan logika kisahnya), Sleeping Beauty (pada bagian dimana sang putri dicium oleh pangeran untuk dapat bangun dari tidurnya), dll. Setiap orang tua bebas memperkenalkan imajinasi kepada anak dengan caranya, namun berkewajiban untuk mendampingi dan menanamkan nilai keimanan pada mereka. Maka memilih bacaan yang tepat adalah pertimbangan utama.

 

 

 

 

 

 

 

Saat kecil saya pernah membaca kisah bergambar Nabi Musa as. Saat itu hal yang masih saya ingat adalah saat saya menangis pada bagian ummu Musa yang harus menghanyutkan Musa kecil di Sungai Nil agar tidak dibunuh oleh Fir’aun. Saya yang saat itu membaca buku itu sendiri, tidak menangkap pesan keimanan disana, melainkan sisi emosional seorang anak bahwa betapa sedihnya ketika kita tidak mengenal orang tua kandung kita. Pesan bahwa akhirnya Musa dirawat oleh Asiyah istri Fir’aun yang sungguh mulia dan dijamin masuk surga serta Musa dewasa yang akhirnya bertemu kembali dengan ibunya tidak disampaikan dalam buku tsb. Disinilah saya rasa kelemahan beberapa buku anak, yaitu ketika mereka tidak menciptakan buku berkualitas berdasarkan sisi psikologis usia anak-anak. Maka pendampingan orang tua lagi-lagi menjadi hal terpenting.

 

 

 

 

 

 

 

Buku-buku anak yang berkembang di pasaran Indonesia saat ini sangat beragam, namun sebagian besar buku berkualitas seperti science and education series masih didominasi oleh buku-buku import dari Korea, Amerika, Eropa, dll. Tidak dapat dipungkiri buku-buku tsb memiliki kualitas grafis yang menarik, penyajian yang ringkas padat, serta mengundang rasa ingin tahu (curiosity) yang besar. Seperti saat saya mengunjungi Perpustakaan Sea World pada Juni lalu. Buku-buku yang disajikan sebagian besar adalah import. Hal yang sama juga seringkali saya temui saat pergi ke toko buku. Jarang sekali buku anak yang memperkenalkan budaya, ilmu pengetahuan, atau kisah iconic yang berasal dari Indonesia. Ada beberapa yang cukup terkenal seperti Mio dan Unyil, namun masih terbatas distribusi peredarannya. Padahal ini merupakan peluang besar perindustrian buku dalam negeri, mengingat harga buku eksport sebagian besar cukup mahal dan kesempatan menanamkan kecintaan bangsa pada anak-anak.

 

 

 

 

 

Hal inilah yang memotivasi saya dan kakak saya untuk book hunting pada pameran atau bazar, terutama hunting buku-buku berkualitas anak termasuk buku-buku berbahasa Inggris, karena kami sama-sama memiliki visi untuk membiasakan anak kami kelak untuk berbahasa Inggris sejak kecil.

Buku hanyalah sarana, dan guru yang sebenarnya terletak pada pembimbingan dan pendampingan orang tua. Seberapapun bagusnya kualitas dan media pembelajaran yang dipilih tidak akan mampu menggantikan peran orang tua didalamnya. Maka pilihan itu kembali kepada kita sebagai orang tua atau calon orang tua, insyaa Allah🙂

3 thoughts on “Memilih Buku Anak

  1. Mari ngumpulin uang zae, buku mahal soalnya apalagi pop up book. Hehehehe
    Kalo dulu waktu aku sd, ada guru ngajiku rajin banget beli buku dan mainan edukatif buat anak padahal saat itu beliau belum menikah. Waktu kutanya kenapa, katanya investasinya dari sebelum nikah, takutnya kalo udah nikah keburu banyak kebutuhan yang lain. Hhe. Mungkin bisa dicontoh🙂

  2. Pingback: Memilih Bacaan Berkualitas | mari berbagi :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s