Mewariskan Al-Qur’an

Perkembangan Al-Qur’an pada 5 tahun terakhir sangatlah pesat. Berbagai jenis penyajian Al-Qur’an dapat kita temui di pasaran, mulai dari mushaf, Al-Qur’an dengan terjemahnya, Al-Qur’an dengan tafsirnya, digital Al-Qur’an, Al-Qur’an seluler, digital Al-Qur’an reader pen, hingga Al-Qur’an braile. Semua ini merupakan upaya yang dilakukan untuk memberantas buta huruf/aksara Al-Qur’an. Karena hasil survei Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta menyebutkan bahwa 65% umat Islam di Indonesia ternyata masih buta aksara Al-Qur’an, 35%-nya hanya bisa membaca Alquran, sedangkan yang membaca dengan benar hanya 20%. Sehingga produksi Al-Qur’an yang semula berorientasi pada passive learning menjadi active learning melalui berbagai keunggulan Al-Qur’an digital dengan penunjuk tata cara baca yang benar melalui gabungan media audio dan visual. Segmentasi Al-Qur’an kini juga jauh lebih beragam, mulai dari Al-Qur’an bergambar untuk anak-anak, Al-Qur’an friendly use and easy take untuk remaja hingga dewasa yang memiliki kesibukan tinggi, Al-Qur’an untuk manula yang dilengkapi dengan lampu penerang serta penyajian huruf yang lebih mudah dibaca, hingga Al-Qur’an untuk difabel seperti Al-Qur’an braile.

Rangkaian proses ini terjadi bertahap, mulai dari bagaimana menyebarkan Al-Qur’an secara merata, bagaimana menyebarkan Al-Qur’an dengan terjemahnya, lalu dengan tafsirnya, bagaimana memberantas buta aksara Al-Qur’an, bagaimana membenarkan cara baca Al-Qur’an, hingga bagaimana memahami terjemah serta tafsir Al-Qur’an. Bantuan penyebaran Al-Qur’an oleh Kementrian Agama merupakan upaya yang cukup baik dalam memberantas buta aksara Al-Qur’an, namun upaya ini masih dilakukan melalui passive learning Al-Qur’an. Sedangkan sebagian besar mereka yang tidak dapat membaca Al-Qur’an adalah mereka yang terbatas pendidikan, terbatas sosial ekonominya, serta terbatas syi’ar da’wah di tempat mereka tinggal. Banyak pula diantara mereka yang bahkan tidak mampu berbahasa Indonesia sepenuhnya.

Mewariskan Mushaf

Saya rasa disanalah peluang pemerintah untuk bekerja sama dengan sektor privat serta LSM untuk membantu penyebaran Al-Qur’an dengan konsep active learning. Hal-hal baru seperti Al-Qur’an yang memadukan manual dan digital use seperti digital Al-Qur’an reader pen mampu menarik perhatian bagi siapapun yang ingin belajar membaca dan memahami Al-Qur’an dengan benar. Namun harganya yang cukup mahal membatasi segmentasi penggunanya. Saya rasa ini dapat menjadi proyek da’wah berbasis donasi pewarisan Al-Qur’an dengan konsep “1 Keluarga, 1 Alqur’an active learning” yang ditujukan hanya bagi mereka yang sangat terbatas akses mempelajari Al-Qur’an. Selain itu mungkin permasalahan ini bisa menjadi pintu terbukanya solusi bagaimana menerjemahkan Al-Qur’an bagi mereka yang hanya dapat berbahasa daerah, tanpa mengurangi makna bahasa Al-Qur’an itu sendiri. Allahua’lam bishowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s