Muhammad – Ridha Allah

Ya, andai Muhammad berpikir bahwa banyak kesulitan berarti tidak diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah ?”

Ada banyak titik sepertimu saat ini, saat Muhammad bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar
Mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat di bagian leher
Mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta
Mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu
Mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun dan tukang sihir
Mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di Syi’b Abi Thalib
Mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata
Atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang
Atau justru saat dunia ditawarkan padanya; tahta, harta wanita…”

“Jika Muhammad berpikir sebagaimana engkau menalar,
tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?

Tapi Muhammad tahu, kawan
Ridha Allah tidak terletak pada sulit atau mudahnya
berat atau ringannya, bahagia atau deritanya
senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”

“Ridha Allah terletak pada apakah kita mentaati-Nya
dalam menghadapi semua itu,
apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangan-Nya
dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan”

“Maka selama di situ engkau berjalan,
bersemangatlah kawan…” [1]

1 Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah (Yogyakarta: Pro-U Media, 2010), h.343-344

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s