Tidakkah Kamu Berpikir?

Suatu ketika saat kami sedang rapat himpunan, seorang teman  jurusan saya tiba-tiba bertanya “Pernah ngga sih kalian bangun di pagi hari, terus perhatiin tangan kalian, badan kalian, dan bertanya-tanya kita ini apa, kenapa kita diciptakan, dan untuk apa kita diciptakan?”. An unanticipated question that I’ve never thought he would ever say about, pertanyaan yang sampai hari ini masih saya ingat. Pertanyaan yang menyadarkan saya bahwa siapapun pada hakikatnya akan berpikir tentang penciptaan dirinya, siapapun ia. Seperti apa yang banyak disebutkan dalam Al-Qur’an “Tidakkah kamu memikirkan tentang penciptaan manusia?”, “… jika kamu berpikir”, “Tidakkah kamu berpikir?”, “Tidakkah kamu memikirkan kesudahan umat-umat terdahulu?”, dll. Bahwa dalam tuntunan Al-Qur’an manusia selalu diminta untuk berpikir, agar ia semakin bersyukur, beriman, dan bertaqwa –sekalipun banyak yang pada akhirnya terjerumus dalam pemikiran yang salah.

Tahun ini, jika Allah menghendaki saya akan berumur 24 tahun, dimana 11 tahun dari usia tersebut telah Ia hisab. Sebelas tahun, bukan waktu yang sedikit untuk menumpuk dosa dan pahala dan membuat timpang timbangan antarkeduanya. Banyak hal yang saya rasa diri saya dahulu lebih baik dari saya hari ini, walau ada juga sebaliknya. Apakah saya ataupun kita lantas menjadi orang yang beruntung (lebih baik), merugi (sama saja) atau bahkan lebih buruk setiap harinya? wallahua’lam bishowab, setiap diri punya jawaban yang pasti berbeda-beda.

Banyak hal yang saya pikirkan ketika saya memperoleh sesuatu. Bahwa islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dengan keadaan asing, apakah saya sudah merasakannya? Merasa terasingi dengan pergaulan dan kondisi ummat yang jauh dari karakter ummat rabbani, qur’ani, dan madani, atau sebaliknya malah merasa nyaman dengan terlibat di dalamnya dan justru merasa asing dengan islam itu sendiri

Bahwa tanda baiknya islam seseorang adalah ia menghindari hal-hal yang tidak bermanfaat baginya, dan Allah senantiasa menjaganya, menjaga waktunya untuk selalu disibukkan dalam kebaikan, seperti halnya yang tertulis dalam Al-Ashr. Lantas apakah saya sudah berada dalam kondisi tersebut? Apakah Allah mudahkan saya dalam melakukan kebaikan dan mempersulit saya untuk melakukan kesia-siaan karena saya hamba yang dicintai-Nya, atau malah sebaliknya, saya dibiarkan berbuat apapun dan menghabiskan waktu untuk apapun tanpa ada kesadaran, rasa bersalah dan penyesalan sedikitpun

Bahwa tanda sempurnanya iman seseorang adalah ketika ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Lantas apakah saya sudah mencintai saudara-saudara seiman baik dekat ataupun jauh, baik terkait oleh hubungan darah ataupun tidak, baik pernah bertemu ataupun tidak? Apa saya mencintai saudara seiman yang menderita di belahan bumi Allah yang lain seperti saya mencintai diri saya sendiri, merasa terluka, marah, ataupun sedih saat hak-hak mereka diinjak-injak dengan tidak adil, atau malah sebaliknya tidak merasakan apapun dan bahkan berpikir bahwa urusan pribadi saja sudah begitu besar sehingga bagaimana mungkin membantu atau memikirkan urusan orang lain

Bahwa tanda sempurnanya iman seseorang adalah saat ia mencintai Allah, Rasulullah dan Al-Qur’an yang tertancap kuat dalam hatinya. Lantas apakah ketika Allah, Rasulullah, dan Al-Qur’an dihinakan, terbekas rasa sakit dan marah luar biasa karenanya? Ketika karikatur penghinaan pada Rasulullah tersebar, ketika mushaf dibakar, dirobek-robek dan dimasukkan dalam toilet di belahan bumi Allah yang lain, apakah yang sejujurnya saya rasakan?

Right Path

Banyak hal yang perlu dipikirkan setiap diri orang-orang beriman, banyak hal yang harus saya dan kita jawab dan menemukan jawabannya. Jika hidup hanya sekedar hidup, lantas mengapa kita diciptakan? Masih ada waktu, waktu hingga Allah cabut nyawa ini, waktu untuk menjalankan misi penciptaan-Nya, waktu untuk menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan, ya masih ada waktu insyaa Allah untuk menjadikan diri ini termasuk dalam golongan orang-orang beruntung yang telah disiapkan untuknya “… apa-apa yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam benak manusia”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s