Keberanian dalam Kaderisasi

Jangan buat ilmumu menjadi kebodohan dan keyakinan menjadi keraguan. Jika engkau mempunyai pengetahuan, lakukanlah. Jika engkau yakin, majulah” Ali bin Abi Thalib ra.

Umumnya dalam setiap proses kaderisasi, keberanian peserta adalah salah satu poin penilaian penting, baik ukuran penilaian tersebut masuk akal ataupun hanya dibangun berdasarkan logika berpikir kebanyakan orang. Berangkat dari perkataan khalifah Ali ra. diatas, orang-orang yang berilmu tidak seharusnya dan tidak sepantasnya menjadi lemah dan ragu akan keyakinannya.

Jika ‘the only truth’ framework kita sama, maka tiap-tiap orang beragama terutama beragama samawi, akan sepakat bahwa kitab sucinya adalah yang paling benar. Saya, seorang muslim, meyakini betul bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya petunjuk kebenaran di dunia ini, selain dari as-sunnah Rasulullah. Diluar dari keduanya pasti mengandung kekurangan atau kesalahan baik banyak ataupun sedikit, karena dibentuk oleh manusia-manusia yang tidak sempurna ataupun tidak maksum seperti Rasulullah. Maka tidak dapat dipungkiri rancangan kaderisasi pasti mengandung kesalahan, baik sedikit ataupun lebih dari itu.

Jika kedua gagasan ini dipertemukan –Al-Qur’an wa as-sunnah dengan rancangan kaderisasi (AD ART, blueprint, atau semacamnya)– saya rasa keduanya tidak apple to apple, dan saat peserta berada dalam kondisi yang (mungkin) banyak berselisih antara keduanya, lantas apa yang akan dipilihnya?. Saya percaya keberanian itu tidak lahir begitu saja, keberanian dalam memperjuangkan yang haq tentu lahir dari pemahaman yang benar dan keimanan yang mendalam. Kembali ke pertanyaan tersebut, ‘apa yang akan dipilihnya?’.

Saat saya menjadi staf kaderisasi suatu himpunan mahasiswa jurusan, ada kisah menarik yang diceritakan oleh teman saya sesama panitia ketika itu. Bahwa dalam satu kesempatan pada acara kaderisasi di malam hari dimana kami menjadi panitianya, seorang peserta izin menginterupsi komandan lapangan ketika adzan, entah karena saat itu sedang berlangsung agitasi atau saat komandan lapangan berorasi yang saling bersahut-sahutan dengan suara adzan. Dan setelah adzan selesai, ia meminta izin panitia lapangan untuk shalat. Apa yang dilakukan panitia? Umumnya mereka akan menolak dan menyuruh peserta menunggu, dan dijawab ‘Ada waktunya nanti’, karena ya mereka akan berpikir jika satu peserta diizinkan maka yang lain akan mengikuti. Tapi adik ini tetap bersikeras, dan akhirnya ia diizinkan shalat ditempat, Allahuakbar. Jika dilihat dari catatan kaderisasinya, ia orang yang biasa saja atau bahkan jarang berpendapat di forum-forum, tapi ketika terkait dengan dien-nya, keberanian itu muncul, Allahuakbar.

Di himpunan mahasiswa jurusan milik tetangga, ada kisah serupa dari kakak kelas kami. Sebelum proses kaderisasi dimulai, peserta diberitahukan mengenai peraturan dan ketetapan kaderisasi. Dan tahukah kalian jika salah seorang peserta menolak beberapa poin, dan bahkan mengancam tidak akan ikut jika isi ketetapannya masih sama, karena ada beberapa hal yang baginya bertentangan dengan nilai-nilai keyakinannya. Apa yang terjadi selanjutnya bagi saya luar biasa, mereka –panitia pelaksana dan peserta tersebut– melakukan rumusan kesepakatan deal to deal, win-win solution, ataupun konsensus bersama, Allahuakbar.

Courage - Umar

Original bacground from here

Ya, keberanian menciptakan bargaining position atau posisi tawar pada diri seseorang. Jika perintah Tuhanmu dengan perintah kakak kelasmu bertentangan, siapa yang kemudian akan dipilih?. Banyak orang yang berani dan vokal muncul dalam forum-forum penuh tekanan seperti kaderisasi, tapi apa semuanya lahir melalui pemahaman yang benar dan keimanan yang mendalam? Belum tentu. Keberanian haruslah lahir dari pemahaman yang benar. Jika itu kaderisasi kampus, maka akan melahirkan peserta yang nantinya tidak akan takut pada penguasa manapun yang melakukan kezhaliman, dan membela rakyat melalui pemahaman yang dibangun atas kebenaran.

Wallahua’lam bishowab, semoga kita dan generasi-generasi kita selanjutnya dapat menjadi seperti apa yang dikatakan khalifah Ali ra tersebut, atau seperti Umar bin Khattab ra. ketika ia mengikrarkan keislamannya lalu dengan semangat bergelora dan keberanian yang menghujam, naik ke atas Ka’bah dan berkata,

Wahai Quraisy, hari ini putera Al-Khattab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin agar istrinya menjanda, anaknya menjadi yatim, dan ibunya berkabung tiada henti, silahkan hadang Umar di balik bukit ini”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s