Ma’rifaturrasulullah 2 – Rasulullah Al-Amin

Rasulullah dijuluki Al-Amin, artinya orang yang dapat dipercaya perkataanya.

Terkadang saya berpikir, seberapa istimewanya gelar tersebut? Saya percaya pada si A, B, atau C, apakah lantas mereka dapat dijuluki Al-Amin?
Ustadz Abuyahya pernah berkata bahwa dalam berdo’a, sebenarnya tanpa kita katakan Allah sudah tahu apa yang ada dalam lubuk hati terdalam hambanya. Bahkan sekalipun kita berbohong dalam do’a, Ia pun tahu. Ya berbohong bahwa kita ikhlas, ridha, dan berserah pada apa yang akan Ia berikan namun nyatanya ada rasa ketidakridhaan jika hal terburuk itu terjadi.

Korelasinya dengan Rasulullah? Beliau adalah orang yang dapat dipercaya perkataan dan isi hatinya, tidak ada kontradiksi pada keduanya. Maka keluarlah hadits itu, dari Abi Dzar Al Ghifari, Rasulullaah SAW bersabda, “Katakan yang benar walaupun pahit…” HR. Al-Baihaqi. Benar yang dimaksud saat hadits ini muncul adalah membenarkan meskipun pahit bagi orang yang mengatakannya.

Ya, berkata benar meski itu pahit untuk diri kita sendiri, yang dengan berkata benar tersebut berarti mengakui kesalahan kita pada orang lain, yang dengan berkata benar tersebut berarti mengakui bahwa kita pernah membicarakannya dibalik punggungnya, yang dengan benar berkata ‘tidak tahu’ berarti melemahkan citra kita dihadapan orang lain, yang dengan berkata benar tersebut mungkin akan merugikan jual beli yang kita lakukan, yang dengan berkata benar tersebut mungkin kita akan dijauhi dan dianggap asing, dan kebenaran-kebenaran perkataan lainnya.

Dan Rasulullah selalu benar pada perkataannya, untuk dirinya sendiri, untuk orang lain, dan juga untuk Allah. Seperti do’a beliau yang sangat saya sukai, ketika beliau mengalami penolakan di Tha’if

“Ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahan kekuatanku,
kekurangan siasatku, dan kehinaanku dihadapan manusia.
Wahai Yang Paling Pengasih diantara para pengasih,
Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah,
Engkaulah Rabbku, kepada siapa Engkau serahkan diriku?
Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku,
ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku?

Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku,
sebab sungguh teramat luas afiat yang Engkau limpahkan kepadaku.
Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan dan karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik,

Agar Engkau tidak menurunkan kemarahan-Mu kepadaku atau murka kepadaku.
Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha.
Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan-Mu”

“Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku,” Dan ini adalah sebenar-benar keikhlasan perkataan dalam do’a yang dibenarkan dalam hati, suatu hal istimewa yang dimiliki oleh manusia terbaik sepanjang masa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s