Ma’rifaturrasulullah 3 – Istri-istri Rasulullah

Rasulullah beristri banyak. Terdengar konotasinya sangat buruk. Bahkan seringkali hal ini digunakan orang-orang tertentu untuk mecela beliau dan mencela ajaran islam, dan terkadang sebagai muslim pengetahuan untuk membantah hal tersebut tidak kita miliki

Lebih dari 1400 tahun lalu Rasulullah lahir di jazirah Arab. Bagaimana kondisinya saat itu sangat jahiliah, hedonis, bar-bar, lalu seberapa jahiliahnya? Jangan bayangkan ada HAM, atau ada Presiden yang melindungi hak memanusiakan manusia, dan jangan bayangkan ada polisi. Setiap orang berhak dibunuh atau membunuh, setiap orang bisa berzina atau dizina-hi, tidak akan masuk penjara sama sekali. Anak perempuan bisa dibunuh setelah ia dilahirkan, istri bisa diminta berzina dengan orang lain untuk memperbaiki gen keturunan, dan sekawanan pria yang mabuk sambil berudi yang tatkala bosan lalu melihat wanita berjalan tak jauh dari mereka lalu mereka mengundi siapa yang akan men-jamah-nya, atau ‘di-jamah bergantian’. Bagaimana dengan wanita tersebut? jika beruntung ia akan dibantu orang baik yang kebetulan lewat atau dibela kaum/bani-nya, jika tidak, maka hal itu akan terjadi begitu saa tanpa ada yang membela HAM-nya. Se-jahiliah itukah? ya

Kita alihkan sedikit maju saat Rasulullah telah menikah. Mari kita lihat bagaimana Rasulullah menghabiskan malam-malamnya dan mengapa kaki beliau selalu bengkak-bengkak dan membuat heran para sahabat. Rasulullah lebih menyukai tidur cepat disaat tidak ada yang perlu dikerjakan, dan bangun jauh lebih awal. Panjangnya malam jazirah Arab jauh lebih pendek dibandingkan malam-nya Indonesia. Seorang sahabat yang penasaran dengan bagaimana rasulnya menghabiskan malam, meminta izin untuk bermalam dengannya. Dan sampailah ketika Rasulullah bangun untuk shalat Qiyamul Lail, ia membaca Al-Fatihah, lalu dilanjutkan Al-Baqarah. Panjangnya 2 juz, dengan kecepatan membaca normal dibutuhkan kurang lebih dua jam. Sang sahabat berpikir “mungkin sebentar lagi beliau akan rukuk”, dan ternyata Rasulullah melanjutkannya hingga Ali ‘Imran yang hampir dipenghujung juz 4, lalu sahabat berpikir “mungkin setelah ini akan rukuk”, dan ternyata Rasulullah melanutkan hingga An-Nisaa’ diawal juz 6, sampai habis. Beliau membacanya dengan tartil. Lalu sahabat tersebut bersyukur karena akhirnya rukuk, Yang tenyata panjang rukuk, i’tidal, dan sujudnya masing-masing hampir sama dengan lama ia berdiri. Jangan tanya apakah sahabat tersebut mampu makmum-an dengan Rasulullah hingga akhir. Dan itu baru 1 raka’at, maka akan ada 1 raka’at berikutnya. Berapa jam beliau habiskan? Silahkan hitung. Sampai-sampai ‘Aisyah berkata untuk meringankan ibadahnya, “Anta Rasulillah, mengapa engkau melakukan semua ini Ya Rasulullah, sementara bukankah Allah telah mengampuni dosa dosamu yg terdahulu dan akan datang?” beliau menjawab “Apakah aku tidak lebih baik menjadi seorang hamba yang bersyukur?”. Tidakkah itu membuat kita tertegun akan betapa mulia dirinya

Nah sekarang mari kita lihat secara singkat dan berurutan siapa saja istri beliau, dan bagaimana mereka dinikahi
– Khadijah binti Khuwailid, seorang janda tersohor karena kecantikan dan kekayaannya yang luar biasa, lebih tua 15 tahun dari Rasulullah, dan ia yang pertama kali mem-propose Rasulullah
– Saudah binti Zama’ah, seorang janda tua non pribumi yang ditinggal meninggal suaminya saat perjalanan hijrah, kecantikan telah pudar dari wajahnya bahkan tidak berapa lama setelah Rasulullah menikahinya, ia menopouse
– ‘Aisyah binti Abu Bakar, remaja muda, putri sahabat terbaik Rasulullah, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beda umur antara keduanya sekitar 42 tahun. Mulai telintas pikiran-pikiran negatif? Rasulullah adalah orang kedua tertampan di dunia yang pernah Ia ciptakan, setelah Yusuf as. Bahkan tidak pudar oleh usia, beliau sehat, tegap, dan awet muda. Pada zaman itu, suatu yang lumrah saat di umur kakek kita, seorang pria bisa menikah dengan wanita seumur anak-anak, karena fisiologis mereka berbeda dengan kita. Siapa yang lebih diuntungkan? adalah ‘Aisyah, orang yang paling besar kecemburuan dan cintanya pada Rasulullah
– Hafshah bin Umar bin Khattab, seorang janda yang ditinggal meninggal suaminya. Putri seorang sahabat yang paling keras membela islam, Umar bin Khattab. Beda antara keduanya sekitar 38 tahun. Rasulullah menikahi Hafshah karena kesedihan Umar saat Abu Bakar dan Utsman menolak menikahi putrinya yang kian hari larut akan kesedihan setelah suaminya meninggal. Alangkah bahagianya setelah Umar dan Hafshah tahu bahwa manusia terbaik di bumi akan menikahi Hafshah
– Zainab binti Khuzaimah, seorang janda yang dinikahi Rasulullah setelah suaminya meninggal pada Perang Uhud. Zainab sendiri meninggal setelah 2 atau 3 bulan menikah dengan Rasulullah
– Ummu Salamah Hindun binti Umayyah, salah satu dari mereka yang pertama kali mengakui islam. Ia dinikahi Rasulullah setelah suaminya meninggal. Ia janda yang tidak lagi muda dengan banyak anak yang masih kecil-kecil
– Zainab binti Jahsy, sebelumnya adalah menantu Rasulullah dari anak angkatnya, Zaid bin Haritsah, yang akhirnya diceraikannya. Hingga turun ayat yang tidak membolehkan mengangkat anak dengan kunyah yang kita miliki. Pernikahan keduanya adalah perintah Allah untuk membuktikan tidak bolehnya menikahi mantan istri anak kandung, yang dalam hal ini Zaid bukanlah anak kandung Rasulullah, keduanya dinikahkan langsung dengan Allah sebagai walinya, dalam Al-Ahzab:37, sungguh pernikahan dengan wali terbaik sepanjang masa
– Juwairiyyah binti Al-Harits, seorang tawanan perang yang ingin dirinya dimerdekakan, maka Rasulullah memerdekakannya dan menikahinya untuk melindunginya dari tangan-tangan yang berusaha membeli / menebusnya untuk dijadikan budak
– Shafiyyah binti Huyai, adalah tawanan perang yang tidak ingin dijadikan budak, maka Rasulullah memerdekakannya dan menikahinya. Ia adalah wanita terhormat, keturunan Harun as, saudara Musa as.
– Mariyah al-Qibthiyyah, satu-satunya istri Rasulullah yang memberinya keturunan setelah Khadijab binti Khuwailid. Adalah wanita yang diberikan oleh pembesar Mesir, Al-Muqaiqis, untuk beliau nikahi agar memperoleh garis keturunan Mesir – Arab dan melindungi keduanya setelah gencatan senjata
– Maimunah binti Al-Harits, seorang janda yang ditinggal meninggal suaminya, seperti halnya dengan Khadijah, ia tertarik pada Rasulullah dan meminta Al-‘Abbas, paman Rasulullah untuk mengajukan lamaran kepada Rasulullah, hingga menjadi sebab turunnya Al-Ahzab:50

Sebagian besar mereka yang Rasulullah nikahi adalah janda yang ditinggal meninggal suaminya serta memiliki tanggungan anak atau tahanan perang yang sewaktu-waktu bisa dibeli untuk dijadikan budak. Mengapa Rasulullah tidak membebaskannya saja tetapi juga menikahi mereka? Karena pada zaman itu, wanita tidak berharga, lemah, dan tanpa perlindungan fisik atau finansial selain dari suami, atau dari kerabatnya jika mereka mampu. Dan tahukah kalian, istri-istri Rasulullah adalah orang yang berharap menjadi istri beliau kembali di surga, bukan dengan suami mereka sebelumnya. Serta kebahagiaan mereka karena memperoleh bagian sebagai ahlul bait Rasulullah yang selalu kita doakan dalam shalat kita, serta berbagai keutamaan ahlul bait lainnya🙂

Wallahua’lam bishowab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s