Umar bin Abdul Aziz, Bagaimana Ia Mengejar Surganya

Saat masih berumur 7 tahun, suatu ketika beliau menangis dan ibunya bertanya, “Ada apa anakku ?”, lalu ia berkata “Wahai ibu, sesungguhnya aku takut, aku tidak tahu Allah akan tempatkan aku di mana pada hari akhir nanti”, dan sang ibu menangis mendapati anaknya jauh lebih takut akan Tuhan-nya sekalipun ia masih anak-anak

Takdir Allah menghantarkan cicit Umar bin Khaththab ini pada suatu amanah besar, yaitu sebaik-baik Khalifah Umayyah. Umar dilahirkan sebagai cucu dari wanita yang didapati Umar bin Khaththab tatkala ia menegur ibunya untuk tidak mencampurkan air susu yang ia jual dengan air (agar bertambah volumenya), karena itu berarti ia membohongi pembeli dan Allah Maha Tahu akan hal itu.

Ia keras pada diri dan keluarganya dalam memisahkan mana yang hak mereka dan mana yang bukan. Kepemimpinannya dikenal sebagai zaman ketika kaum fakir miskinnya sudah tidak ada lagi yang menerima zakat, bukan karena semuanya telah mampu, tapi karena izzah mereka mengubah mereka dari penerima menjadi pemberi.

Suatu ketika dalam ruang kerjanya, Umar didatangi oleh putranya. Ia bertanya apa keperluan putranya, apakah ada hubungannya dengan negara atau bukan, dan ternyata bukan. Lalu ia mematikan lampu ruangan itu, dan putranya bertanya “Kenapa ayah mematikannya ?”, Umar menjawab “Karena perkara yang ingin kamu sampaikan tidak punya hak atas penerangan ini”

Kisah ini selalu mengingatkan bahwa mereka yang memperoleh surga, bukanlah mereka yang meremehkan perkara-perkara kecil. Dulu saya bercita-cita menjadi menteri negara karena saya yakin saya tidak akan menerima apa yang bukan milik saya, tidak seperti kebanyakan orang yang saya anggap akan berlaku demikian. Hingga Allah tunjukan bahwa perkara kejujuran itu bukan hal main-main.
Saat kerja praktik Agustus-September 2013 lalu, saya berpendirian untuk menggunakan fasilitas kantor yang hanya akan mendukung kerja praktik. Saat itu kebetulan saya menonaktifkan fb selama 1 bulan, lalu mengaktifkannya kembali. Dan saya melanggar janji tersebut. Di sela-sela kerja praktik, saya browsing internet kantor bukan untuk keperluan kerja, lalu saya teringat kisah khalifah Umar, dan saya sadar bahwa perkara surga itu bukan hal main-main.

Kamu ingin surga? Kejar itu dengan tekad dan keseriusan. “Mintalah surga tertinggi, surga Firdaus” kata Ust. Darlis Fajar. Dan perkara surga benar-benar bukanlah persoalan main-main.

*Kisah Umar bin Abdul Aziz ini saya bahasakan kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s