Bukan Siapa-Siapa

Sebelum ini saya hampir selalu terpukau dengan mereka yang memiliki pencapaian-pencapaian besar dalam hidup, lalu kemudian membandingkannya dengan saya pribadi. Namun entah sejak kapan, mungkin setahun terakhir ini, saya tidak lagi bersikap demikian. Saya berhenti untuk membandingkan diri saya dengan orang lain tanpa tahu kenapa. Hanya banyak yang pada akhirnya saya pertanyakan pada diri saya sendiri “Why you do this?” “Why you don’t do this?” “What’s for all of this?” “For who?” “What’s you aiming for?” dan berbagai pertanyaan yang beberapa belum saya temukan apa dan mengapa. Sesuatu yang itu datang dari keinginan terdalam yang tulus dan sungguh-sungguh, terlepas dari bagaimana orang lain, karena hal ini berkaitan dengan pergulatan dalam diri saya sendiri. Lantas saya berfikir apa saya telat dalam mencari jati diri, lalu apa yang selama ini saya lakukan, apakah hanya sekedar mengikuti other people’s path, dan… mungkin benar bahwa ada bagian dari diri saya yang mengakui hal-hal tersebut.

Maka pagi ini sesuatu yang terlihat biasa menjadi sangat berbeda karena pengingat-Nya. Seorang bapak paruh baya menggendong kardusan kertas-kertas besar yang dikaitkan pada masing-masing ujung bilah kayu. Ia datang dari arah kampus, sedang saya menuju kampus, dan kami berpapasan di selasar parkir Seni Rupa. Bapak itu menunduk dan mengatur napas berkali-kali, dan terlihat sekali bahwa ia sangat-sangat kelelahan, beban yang berat ditumpu pada usia yang tidak layak untuk hal itu. Masyaa Allah… seperti tertampar dan ada perih yang hinggap dalam kerongkongan dan mata saya, bahwa orang-orang seperti mereka begitu banyak, orang-orang yang bekerja dengan apapun yang ia bisa untuk menafkahi diri dan keluarganya dengan sesuatu yang halal walau seadanya. Dan saya hampir tidak bisa apa-apa, tidak mampu untuk membantu sama sekali, sama sekali.

Apa jadinya setelah ini, ketika semua rutinitas ini selesai, apa saya akan bekerja? Ya, lantas bekerja seperti apa, untuk siapa, dan akan membantu siapa. Sebagian orang Allah lebihkan kesanggupan dalam dirinya, yang lain biasa saja, sedang sebagian lagi kurang kesanggupannya. Semua ini terjadi agar ada yang membantu dan ada yang dibantu. Dan tidak berarti mereka yang lebih sanggup lantas akan membantu mereka yang kurang, dan bukan berarti pula mereka yang biasa-biasa tidak berpeluang membantu. Semua kembali pada masing-masing individu, dan saya meyakini hal tersebut.

Seorang kakak pernah menulis bahwa ‘Tugas manusia bukan bercita-cita tentang capaian atau perubahan apa yang bisa dirinya hasilkan bagi dunianya. Tugas manusia sejatinya adalah berserah diri kepada Allah dan membiarkan Allah menuntun dirinya untuk memenuhi alasan kenapa dia diciptakan’. Memenuhi alasan penciptaan, menjadi rahmatan lil ‘alamin, lalu dengan apa, bagaimana, dan mengapa. Saya yakin bahwa saya diciptakan untuk memenuhi alasan orang lain pula diciptakan, mekanisme keterkaitan red-strings antara satu dan lainnya. Maka alasan itu lah, alasan yang begitu kuat saya inginkan untuk terwujud, alasan yang mampu membuat diri ini terpecut untuk melakukan sesuatu melampaui ekspektasi dirinya, yang perlu saya temukan dalam perjalanan ini, insyaa Allah

One thought on “Bukan Siapa-Siapa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s