Amanat Tariq ibn Ziyad Sebelum Peperangan

Kemana kalian hendak pergi?” Tariq berseru lantang di hadapan pasukannya. “Musuh ada di depan kalian dan laut di belakang kalian. Demi Allah, tidak ada keselamatan bagi kalian kecuali melalui keberanian dan keteguhan hati. Perhatikan keadaan kalian; di sinilah kalian berada, di semenanjung ini, bagi anak-anak yatim yang berserakan di muka bumi. Kalian akan segera bertemu dengan musuh perkasa yang mengepung kalian dari berbagai penjuru, bagai amukan gelombang laut yang bergejolak penuh kemarahan. Mereka mengirimkan kepada kalian para pahlawan mereka yang tak terhitung jumlahnya, tubuh mereka tenggelam dalam tameng-tameng baja, dan mereka dilengkapi dengan segala jenis persenjataan.

Apa yang bisa kalian lakukan terhadap mereka? Kalian tak punya senjata selain pedang yang kalian bawa, tak punya bekal kecuali yang bisa kalian rebut dari tangan musuh-musuh kalian. Oleh karena itu, kalian harus menyerang mereka dengan cepat. Jika keinginan kalian untuk menaklukkan musuh tidak bertambah, maka angin kemenangan tidak lagi akan berhembus di pihak kalian, dan boleh jadi rasa takut yang membayang-bayangi hati musuh kalian beralih menjadi keberanian yang tak bisa terbendung.

Buang rasa takut dari hati kalian! Yakinlah bahwa kemenangan akan menjadi milik kita, bahwa raja yang tidak beriman itu tak akan mampu bertahan dari hentakan senjata-senjata kita. Lihatlah, kini dia telah datang untuk menjadikan kita tuan-tuan dari berbagai kota serta kastil yang dimilikinya, dan untuk menyerahkan kepada kita harta kekayaannya yang tak terhitung banyaknya. Sekiranya kalian mau memanfaatkan peluang yang kini terhampar, tentu kalian akan menjadi pemilik dari kekayaan tersebut. Di samping itu juga akan menyelamatkan diri kalian sendiri dari kematian.

Jangan berpikir bahwa saya melimpahkan sebuah tugas kepada kalian, sementara saya sendiri menghindar darinya atau berusaha menyembunyikan dari kalian bahaya yang menghadang di perjalanan ini. Tidak. Kalian benar-benar menghadapi sebuah urusan yang besar. Tetapi ketahuilah, jika kalian menderita untuk sementara waktu, pada akhirnya kalian akan meraih panen kesenangan dan kebahagiaan yang melimpah. Jangan membayangkan bahwa saya tidak mengerjakan apa yang saya sampaikan pada kalian. Kepentingan saya dalam urusan ini lebih besar daripada kalian. Karenanya, perbuatan saya pun tentu akan lebih dari apa yang kalian lakukan.

Kalian tentu sudah mendengar sejumlah kabar tentang semenanjung ini. Kalian tentu tahu betapa gadis-gadis Yunani itu seanggun Huris, memakai kalung-kalung mutiara dan permata di leher-leher mereka dan mengenakan pakaian-pakaian tunik sutera bersulam emas pada tubuh mereka. Mereka menanti kedatangan kalian, bersandar pada dipan-dipan empuk di dalam istana-istana mewah para bangsawan dan pangeran.

Kalian pun mengetahui bahwa Khalifah al-Walid ibn Abdul Malik telah memilih kalian, sebagaimana banyak pahlawan lainnya diantara para pemberani. Kalian mengetahui betapa para bangsawan besar di negeri ini sangat berkeinginan menjadikan kalian sebagai anak serta saudara mereka melalui pernikahan, jika kalian menggempar maju laiknya para pemberani di tengah pertempuran, serta berperilaku bak pemenang sejati dan tentara yang gagah berani.

Kalian mengetahui bahwa ganjaran Allah menanti kalian jika kalian siap untuk menegakkan kalimat-Nya dan memproklamirkan agama-Nya di bumi ini. Tanamkan pada diri kalian bahwa Allah Yang Maha Kuasa akan memilih, sesuai janji-Nya, orang-orang terbaik diantara kalian, serta memberi ganjaran pada mereka apa yang menjadi haknya di dunia ini sebagaimana juga di akhirat kelak.

Kalian ketahui bahwa saya akan menjadi orang pertama yang memberi contoh serta menerapkan apa yang saya sarankan pada kalian. Karena sudah menjadi keinginan saya pada saat bertemunya dua pasukan nanti, untuk menyerang sang tirani Kristen Roderic serta membunuhnya dengan tangan saya sendiri, insyaa Allah.

Saat kalian menyaksikan saya bertempur dengannya, ikutlah menyerang berasama saya. Jika saya membunuhnya, maka kemenangan menjadi miliki kita. Jika saya yang terbunuh sebelum saya berhasil mencapainya, jangan biarkan hal itu menjadi masalah bagi kalian. Bertempurlah terus seolah-olah saya masih hidup di tengah-tengah kalian, dan tunaikanlah apa yang menjadi tujuan kita. Karena begitu mereka melihat raja mereka jatuh, orang-orang yang tak beriman ini tentu akan lari kocar-kacir. Sekiranya saya mati terbunuh setelah berhasil membunuh raja mereka, tunjuklah seseorang diantara kalian yang memiliki keberanian serta pengalaman yang sanggup memimpin kalian dalam situasi genting ini, serta raihlah keberhasilan. Jika kalian memenuhi instruksi saya ini, sudah pasti kemenangan akan menjadi milik kita!” [1]

1 Alwi Alatas, Sang Penakluk Andalusia, Tariq ibn Ziyad & Musa ibn Nusayr (Jakarta: Zikrul Hakim, 2007), h.98-101

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s