Manusia

Manusia bagi saya adalah makhluk yang sangat kompleks. Pembeda yang sangat nyata dengan makhluk lain yang Allah ciptakan. They have the depth that couldn’t understand wholly by other people, no ones. Even if you are their best friend, their parents, their siblings, or their other close relations. I bet they couldn’t. Like what Sean told to Will in Good Will Hunting “No one could understand the depth of you”. Allah mendesain diri kita secara sempurna, bahwa sebagaimanapun diri kita bagi orang lain, mereka tidak akan mampu menjadi tempat kita untuk menceritakan seutuhnya apa yang kita rasakan. Kita didesain sedemikian rupa untuk mengadu pada Dzat yang tidak perlu kita menceritakan seutuhnya diri kita agar ia paham, karena Ia telah paham sepenuhnya, bahkan lebih daripada diri kita sendiri.

Terkadang kita sulit membahasakan apa yang kita rasakan. Terkadang kita sulit menceritakan apa yang sebenarnya kita maksud, hingga tidak jarang membuat orang lain salah paham. Terkadang kita sulit menunjukan kasih sayang pada orang lain, yang sebaliknya tidak jarang membuat orang lain berpikir kita tidak cukup menyayanginya. Tidak seperti mata koin dimana seseorang akan punya dua sisi baik dan buruk, melainkan dalam satu sisi itu berbagai rupa diri seseorang itu ada. Maka tak jarang pergolakan batin itu muncul, ketika berbagai bagian dalam diri seseorang beradu untuk memenangkan mana yang lebih dominan padanya.

Setiap hal dalam diri seseorang adalah akumulasi dari pengalaman yang ia rasakan, dari lingkungan dimana ia dibesarkan, dari gagasan dimana ia dibentuk, dari keimanan yang ditanamkan padanya, dari ketidakmampuan yang ditanamkan padanya, dari setiap kesadaran yang ia ambil atas berbagai hal yang ia alami. Mereka bukan buku yang bisa dibaca, bukan kaca yang transparan, bukan program yang dapat dikendalikan. Allah benar-benar membuat kita sebagai makhluk yang sempurna. Tidak berarti kejadian yang sama dialami oleh dua orang akan membentuk dua orang yang sama pula. Salah satunya bisa mendominasi dirinya dengan kebaikan dari kepahitan kejadian yang ia alami, sedangkan yang lain justru sebaliknya. Atau bahkan seseorang bisa mendominasi dirinya dengan keburukan bahkan dari kehidupan yang Allah berkahi dengan kebaikan. Maka saya tidak pernah sepakat dengan mereka yang berkata “Kalau kamu mengalami apa yang saya alami, kamu pasti akan berbuat seperti apa yang saya perbuat”. Saya percaya hidup seseorang tidak seperti persamaan matematis yang akan melahirkan satu hasil yang sama pada keadaan yang sama. Setiap individu berbeda, sedemikian rupa, dan sangat kompleks

Maka saya sangat takjub dengan bagaimana Allah mendesain diri saya seperti ini, mendesain kehidupan yang saya alami, mendesain kepribadian saya sedemikian rupa. Allah benar-benar Maha Baik. Ia menciptakan saya untuk hanya Dia yang paham sepenuhnya, untuk hanya Dia yang paham jalan keluarnya, untuk Dia yang tahu bagaimana menolong hamba-hamba-Nya satu per satu. Allahu Akbar. “Maka, nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s