Memberikan Apa yang Telah Diberikan

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” Al Mu’minun: 60

Imam Ahmad berkata, seperti yang termaksud dalam bab “Bersikap Hati-hati dan Merasa Takut Kepada Allah”:
Telah menceritakan kepada kami, Yahya ibnu Adam, telah menceritakan kepada kami, Malik Ibnu Magul, telah menceritakan kepada kami, Abdur Rahman ibnu Sa’id ibnu Wahb, dari Aisyah yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan ‘orang-orang yang mengerjakan perbuatan mereka sedangkan hati mereka takut’ itu adalah orang yang mencuri, berzina, dan minum khamr dalam keadaan takut kepada Allah?” Rasulullah saw. menjawab: Tidak, hai anak perempuan As-Shiddiq. Tetapi dia adalah orang yang shalat, puasa, dan bersedekah, sedangkan ia takut kepada Allah Swt.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Ibnu Abu Hatim melalui hadits Malik ibnu Magul, dengan sanad yang sama dan lafaz yang semisal. Disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda: Tidak, hai anak perempuan As-Shiddiq. Tetapi mereka adalah orang-orang yang shalat, puasa, dan bersedekah, sedangkan hati mereka merasa takut tidak diterima amalnya, mereka itu bersegera mendapat kebaikan-kebaikan (Al Mu’minun: 61).

Imam Turmuzi mengatakan, telah diriwayatkan melalui hadits Abdur Rahman ibnu Sa’id, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, dari Nabi Saw. hal yang semisal. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad Ibnu Ka’b Al-Qurazi, dan Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan tafsir ayat ini.

 

Tafsir lainnya adalah bahwa ayat ini dapat diartikan, “Dan mereka yang mengerjakan apa yang mereka kerjakan” sehingga termasuk pula amal saleh di samping sedekah, seperti shalat, zakat, haji, dan lainnya. Dan bahwa (hati) mereka takut jika amalan mereka tidak diterima. Maksudnya, karena mereka tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka untuk dihisab, maka mereka khawatir kalau pemberian (sedekah) dan amal mereka tidak diterima Allah Swt. dan tidak menyelamatkan mereka.

Sumber 1 | 2

__

Saat saya membaca surat ini, dari Al Mu’minun: 51-61, terdapat dua kontradiksi yang saya tangkap, yakni pada Al Mu’minun: 55-56 “Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya” dengan Al Mu’minun: 61 “Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya (sejak di dunia)” yang merupakan penjelas ayat 57-60, dimana kalimat pada ayat 60 itulah yang telah dibahas di atas.

Al Mu’minun: 60 menurut saya memiliki kalimat terjemahan yang menarik sekaligus membingungkan, sehingga saya mencari tafsir ayat tersebut, yang menghantarkan saya untuk membaca tafsir Al Mu’minun: 51-61, dan menemukan kedua kontradiksi yang saya sebutkan sebelumnya. Keduanya sama-sama memiliki makna ‘akan memperoleh kebaikan di dunia’ namun dengan arti yang berbeda, bahwa yang pertama (ayat 56), bisa jadi karena ‘mereka tidak menyadari (dibiarkan sesat sampai dengan waktu yang ditentukan’ atau sebaliknya menjadi golongan kedua (ayat 61) karena Allah benar-benar memberikan balasan karena mereka bersegera dalam beramal (mengerjakan kebaikan).

Maka seperti raja’ dan khauf, takut dan berharap. Takut bahwa kita termasuk dalam golongan pertama, serta takut bahwa amalan kita tidak diterima Allah Swt seperti dalam Al Mu’minun: 60, serta berharap, berharap bahwa kebaikan apapun yang Allah segerakan di dunia saat ini, adalah balasan karena kita termasuk dalam golongan yang kedua.

Allah hendak memberikan gambaran bahwa kebaikan yang nyata dapat memiliki maksud yang berbeda sesuai dengan keridhaan-Nya. Maka jangan sampai kebaikan yang Allah berikan pada orang lain membuat kita iri ataupun dengki, dengan menuding bahwa ia bahkan tidak beriman. Karena bukan tidak mungkin ia merupakan golongan pertama. Dan bukan berarti kita dapat iri atau dengki sekalipun orang yang menerima kebaikan tersebut adalah mereka yang bersegera dalam kebaikan, karena hal tsb merupakan cara Allah menepati janjinya dalam Al Mu’minun ayat 61 tersebut.

Wallahua’lam bishowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s