Out of The Blue

Setiap tubuh yang normal dan sehat, memiliki sistem alarm biologis bagi pemiliknya. Seperti jam biologis yang memberi tanda lelah dan mengantuk di malam hari, tanda bangun di pagi hari, dsb. Seperti pula neraca biologis yang tanpa sadar kita tahu berat badan kita naik atau turun, mengurus atau menggemuk. Dan seperti hati yang memberi tanda sedang dalam kondisi seperti apa amal kita saat ini, baikkah? burukkah?.

Suatu kali dalam pembicaraan saya bersama teman baik saya, tanpa sadar saya bilang, “Kata hatiku seperti terdiri dari 2 orang. Kadang lebih. Mereka berdialog.” Something out of the blue. Dan ajaibnya, teman saya juga mengiyakan hal tersebut.

dried-flowerPicture source: poro_merria

Seorang yang introvert justru cenderung merasa kesepian di tengah banyak orang. Tapi mereka bukan orang yang menginginkan kesepian. Saya mendeskripsikan sahabat Rasulullah saw., Utsman bin Affan seperti itu. Bukan hari pembalasan yang ia takutkan,melainkan masa-masa penantian di alam kubur. Karena di sana ia sendiri, kesepian. Tapi saya sangat yakin, Utsman yang Allah cintai dan ia juga mencinta-Nya, tidak akan pernah merasa kesepian. Amalnya yang tidak terhitung akan menjadi teman setianya.

Lalu bagaimana dengan saya?. Sungguh Allah Maha Baik, ia memberikan kita ‘teman’ berupa kata hati kita sendiri, yang tanpa kita sadari selalu rela meladeni dialog batin kita. Saya bertanya-tanya, apa Allah akan tetap memberikan ‘teman’ tersebut setelah kita mati?

Sesuatu yang paling berharga, hadir dalam bentuk yang intangible. Itulah mengapa saat kita meninggalkan kehidupan setelah di dunia, tidak ada satupun barang fisik yang kita bawa, selain mungkin kain kafan.

Le Petit Prince, di buku itu diceritakan bahwa saat sesuatu telah ‘menjinakkan’ hati kita, maka kedua kubu yang saling bertolak belakang pun akan saling tarik menarik dengan kuat. Bahkan seekor serigala bisa bersahabat dengan Pangeran Kecil, saat ia sudah menjinakkannya. Mungkin seperti itu juga hati kita. Ketika naluri dasar dan fitrah manusia untuk selalu menerima hal yang baik tiba-tiba terjinakkan dengan hal-hal yang Ia larang, maka setidak bersahabat apapun kedua hal tersebut, bisa menjadi sahabat baik. Ya, hati yang pada dasarnya baik bersahabat dengan sifat keburukan yang menutup hati tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s