him

Sejak mungkin sekitar 2? atau 3 tahun lalu? pembicaraan tentang menikah sudah bukan lagi hal yang sungkan untuk dibicarakan diantara saya dan teman-teman wanita saya yang lain. Pesan seperti “Saat niat untuk menggenapkan agama itu sudah muncul dengan kuat, maka ikhtiar kita juga akan kuat dengan sendirinya.” Entah, tapi menumbuhkan niatan itu tidak mudah bagi saya. Banyak yang mengatakan kalau kita melihat anak-anak kecil atau teman terdekat kita sudah menikah dan memiliki anak, maka ada perasaan iri untuk segera menyusul. Dan lagi-lagi hal itu tidak mudah untuk saya, namun bukan juga sulit, hanya perasaan saya terlalu datar untuk itu. Bukan tidak ingin segera menikah, tapi keinginan itu tidak mudah muncul begitu saja. Dan saya tidak mudah iri dengan orang lain, yang bukan berarti itu hal yang bagus juga, karena dalam beberapa hal, justru ‘tidak mudah iri’ menjadi hal yang menyulitkan.

Dalam kajian-kajian yang saya ikuti, seringkali pesan bahwa saat niat seseorang sudah sangat kuat dan lurus, maka siapapun yang datang kepadanya yang baik agamanya, maka menikah akan mudah dijalankan. Benarkah? saya membatin. Beberapa kali saya menyaksikan pasangan suami istri yang tidak bangga dan puas satu sama lain. Mereka mengumbar dan mengeluhkan kelemahan pasangannya pada orang lain, bahkan pada anak-anak mereka sendiri, seolah itu sebuah lahan adu domba. Dan saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin dua orang yang saling mencintai dan membina rumah tangga melakukan hal itu?

Dalam beberapa penelitian yang pernah saya dengar atau ketahui, hormon yang menimbulkan rasa cinta hanya bertahan 1.5 tahun (?), kakak saya bilang 4 tahun (?) dan rumah tangga bertahan dengan cinta paling lama 10 tahun (?) karena setelah itu hanya tinggal komitmen mempertahankan rumah tangga. Ah, saya rasa tidak demikian.

Pembicaraan tentang pernikahan kadang mengarah para pengandaian yang kurang mengenakan, seperti “Kalau perempuan sudah lewat usia sekian dan belum menikah, biasanya standar pasangan sudah tidak penting lagi. Siapapun orang itu, bahkan kalaupun dirinya dijadikan istri kedua, dia akan rela” lalu akan muncul suara-suara mengernyit karena takut hal itu akan menimpa kami. Lagi-lagi saya datar.

Teman-teman terdekat saya seringkali mengatakan bahwa “Zae bukan orang yang mudah dipengaruhi, juga bukan orang yang mudah berubah”. Apa itu konotasinya baik atau buruk, saya tidak tahu, tergantung dari apa yang membuat saya berubah. Dan bukan 1 atau 2 orang yang mengatakan demikian, kasarnya mungkin saya cukup ‘keras kepala’

Saya berdoa, tentu. Berdoa tentang pasangan hidup, yang seringkali doa itu serasa datar. Mungkin karena ada doa lain yang lebih saya rasakan ‘benar-benar’ saya inginkan, atau mungkin kondisi iman saya kurang baik, atau mungkin karena hal yang lain. Seperti ketika saya sedang sedih atau ketika saya kehilangan semangat ‘Why I’m suck like this? Why I can’t? Why I lost in path?’ saya jadi merasa doa mengenai pernikahan tidak lagi punya ‘rasa’. Doa itu jadi datar begitu saja, bahkan tanpa keinginan¬†‘pengabulan’ yang muncul dari hati terdalam.

Dan saya mengubah cara saya berdoa”

Saat saya sedang sangat sedih, atau depresi, atau kecewa, atau apapun yang membuat saya kehilangan semangat. Saat itu saya mendoakan ‘dia’ yang saya tidak tahu siapa dan saya tidak membayangkan seseorang atau siapapun yang saya kenal. Saya mendoakannya, ketika saya sedang kehilangan makna dalam diri saya sendiri, saya berdoa agar ‘dia’ tidak seperti saya. Saat saya sedang sedih, saya berdoa agar Allah melimpahkan kebahagiaan dan berkah untuk-‘nya’. Saat saya sedang bahagia, saya mendoakan agar Allah memberi kebahagiaan yang sama seperti yang saya rasakan untuk-‘nya’. Saya mendoakan agar Allah membantu-nya’ keluar dari permasalahan yang ia hadapi. Saya berharap ‘dia’ dikelilingi orang yang Allah ridhai. Saya berharap ‘dia’ berada pada jalan kebaikan. Saya berharap Allah mencukupkan raya syukur dalam diri-‘nya’. Bahkan kadang saya mendoakan untuk anak-anak kami kelak, keturunan kami kelak.

him

Banyak orang mengatakan bahwa saat kita berdoa dan membayangkan wajah orang yang kita doakan, maka doa itu akan lebih terasa kuat. Tapi bukan berarti kita hanya bisa mendoakan mereka yang kita bisa bayangkan wajahnya bukan? Karena saat saya mendoakan mereka yang saya tidak bisa membayangkan wajahnya sekalipun, doa itu sendiri tetap memberikan makna yang dalam untuk saya.

Cukuplah saya merasa Allah tidak berbatas kasih sayangnya, ketika Dia menerima dan mengabulkan doa yang saya tidak bisa tuliskan nama penerimanya, tapi Dia tahu siapa yang ditakdirkan untuk menerima-‘nya’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s