Brainiac

Istilah brainiac bukan bahasa baku dalam bahasa Inggris, saya hanya meniru dari film Akeelah and The Bee saat sahabat Akeelah menyindirnya dengan sebutan brainiac hehe. Jadi apa yang akan kita bahas sekarang? Hehe, di jam lewat tengah malam dimana saya sedang menyelesaikan tugas saat ini, saya akan membawa kalian pada sesuatu, apakah itu?

Ini tentang cara berpikir otak, kecerdasan, kreatifitas, dan kemenarikan (?) cara pandang seseorang. Beberapa waktu terakhir, saat saya sedang bosan atau atau tidak jelas harus meningkatkan mood dengan cara apa, saya biasanya mengisinya dengan menonton cuplikan Problematic Men, salah satu reality show Korea Selatan tentang cara berpikir otak. Sebagian besar pertanyaan dan teka-teki dalam Problematic Men dipecahkan dengan cara berpikir yang tidak biasa, bukan dengan cara rumit namun juga bukan dengan cara dangkal. Hmm, lebih pada seberapa cepat otak kita menangkap persoalan dan memprosesnya menjadi suatu solusi. Tentu mereka yang berhasil menjawab dalam PM -saya akan menyebutnya demikian setelah ini- adalah mereka yang berhasil memperoleh solusi dengan cepat dan tepat. Jika kalian beberapa kali menonton PM, kalian akan tahu pola dari setiap pertanyaan yang berbeda-beda tapi dengan cara pengolahan informasi otak yang mirip antara satu soal dengan soal lainnya. Para pembawa acara PM memiliki kisaran IQ 151-156, fuiiihh luar biasa! Mungkin karena itu mereka dengan mudah memecahkannya? Entahlah tapi ada bagian dari kejeniusan dengan kreatifitas dan berpikir di luar kebanyakan, yang terhubung dengan benang merah hehe.

Sekarang, kita bahas tentang salah satu bagian dari buku Outliers karya Malcolm Gladwell. Saya ingat dalam satu pembahasan terdapat suatu tes yang ditujukan untuk mengetahui seberapa kreatif (?) dan brilian loncatan berpikir seseorang dengan memberikan satu kata untuk diterjemahkan secara bebas dalam beberapa waktu. Pengujian ini di tes pada beberapa anak. Contohnya, diberikan kata “Batu” dan anak tersebut diminta menjawab lisan apapun yang bisa dilakukan dengan kata batu tersebut, saya tidak ingat apa diberikan waktu 1 atau 2 menit (maafkan atas kemalasan saya membuka kembali buku itu _/|\_). Ada yang menjawab dengan loncatan pola jawaban yang runut dan obvious namun ada pula yang loncatan pemikirannya liar hehe. Contoh jawaban yang obvious seperti “Batu untuk membuat jalan, untuk membangun rumah, untuk menulis, untuk membuat alat perang, untuk memasak dengan tungku, dst…”. Anak yang menjawab dengan jawaban demikian sebelumnya diketahui memiliki IQ lebih tinggi dari anak yang kedua. Anak yang kedua menjawab “Batu untuk melempar dengan ketapel, untuk membuat jalan, untuk dijadikan perhiasan, untuk dipajang di museum, untuk diukir, untuk pendulum, untuk membuat perangkap, dst…”. Pemikiran anak kedua lebih liar dengan loncatan jawaban pertama, kedua, ketiga, dst memiliki keterkaitan yang berjauhan dan bahkan lebih luas cakupannya. Meski anak kedua memiliki IQ lebih rendah dari anak pertama, hipotesis hasil penelitian tersebut menunjukan IQ tidak berkorelasi terhadap kreatifitas berpikir seseorang (akan saya crosscheck kembali ke bukunya saat saya tidak malas nanti, insyaa Allah).

credit

Terakhir, mari kita bahas Google. Kakak saya pernah sharing tentang buku yang ia baca “Are You Smart Enough to Work for Google?”. Buku ini membahas tentang cara Google menyeleksi calon pekerjanya, yakni pertanyaan yang ditujukan untuk menguji seberapa solutif seseorang untuk memecahkan persoalan, bukan seberapa tinggi IQ-nya. Saya belum membaca buku tersebut, tapi beberapa pertanyaan yang diajukan telah dibahas dalam IDN berikut. Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut saling berloncatan dan tidak memiliki pola koherensi, seperti tes “batu” yang ada dalam buku Outliers. Saat sinyal-sinyal syaraf otak kita mampu menjawab persoalan yang tidak memiliki pola yang jelas, saya rasa disanalah letak kemenarikan cara pandangnya. Seperti tidak ada batasan dalam persoalan apa dirinya akan menjadi problem solver, karena ia seperti key point puzzle yang dapat mengisi lini persoalan apapun yang ia hadapi, tidak terbatas pada sesuatu yang sifatnya koheren. Istilahnya, they’re fit to any other situations and problems, like Problematic Men when they solve the problems hehe

Yap itu saja, saya akan kembali mengerjakan tugas saya, sampai jumpa lagi🙂 semoga bermanfaat🙂

#NoteForMySelf >> check the Outliers book again pippiippp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s