Kewaspadaan

Saya belum pernah merasakan waspada, insecurity, sebesar ini, seperti saat ini. Waspada dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, waspada dengan amal yang sangat sedikit, waspada dengan keimanan yang naik-turun, waspada dengan hiruk pikuk dunia dan seisinya. Allah Maha Baik, Ia berikan perasaan Khauf (takut) dan Raja’ (berharap) untuk senantiasa mengingat-Nya, meminta kepada Dia. Sangat luar biasa ketika Allah menjadikan Dirinya satu-satunya Dzat yang tiap orang beriman akan merasakan khauf dan raja’ pada-Nya sekaligus. Karena pada hal-hal lain, kita tidak dapat merasakan takut dan cinta atau harap pada objek yang sama secara bersamaan. Maha Besar Allah dengan rasa yang bertolak belakang tersebut, menjadikan Dia satu-satunya Dzat yang kita bisa merasakan keduanya pada Dia.

Entah… fase-fase ini menjadi saat yang menakutkan bagi saya. Setiap kali melihat sekeliling dan mendapati berbagai kejadian di sekitar akhir-akhir ini, membuat saya sadar bahwa nikmat keimanan itu luar biasa besarnya. Tidak ada yang bisa menjadi benteng di tengah arus fitnah dan goncangan perang pemikiran yang sangat masif saat ini, selain iman. Tidak peduli seberapa cerdas orang lain, seberapa tinggi kedudukannya, seberapa tidak terhitung kekayaannya, seberapa memesona bicaranya, ketika mereka membawa kita pada penyesatan keimanan, pada wilayah abu-abu, pada kebencian dan rasa jijik pada kemurnian islam, maka apa yang mereka miliki atas dunia dan seisinya menjadi tidak berharga. HasbunAllah wani’mal wakil, ni’mal maula wani’man nasir. Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.

Orang yang selamat pada hari akhir hanyalah sedikit orang. Sangat sedikit dibandingkan jumlah ummat manusia yang terkumpul hingga hari itu. Apa artinya sedikit itu? Mereka bukan orang kebanyakan. Saat saya dan bapak berdiskusi seperti biasanya, kami sampai pada satu kesimpulan, bahwa orang yang memiliki power atau kekuasaan, lagi cerdas, lagi baik akhlaqnya, lagi kuat keimanannya, lagi berpengaruh, dan lagi berani menegakkan yang haq, sangat sedikit. Bisa disebutkan pada zaman ini, orang-orang dengan ciri-ciri demikian, yang bahkan dengan sepuluh jari pun tidak akan tercatut kesepuluh nama yang bisa disebutkan. Mereka yang sedikit ini adalah mereka yang dibutuhkan ummat. Pemimpin, Amir al-Umara’. Entah seperti apa posisi kita saat ini, kita sedang berjalan untuk melahirkan pemimpin dengan ciri-ciri demikian. ‘Maka cantumkan dalam doa-doamu, kelak dari anak-keturunan kita, akan lahir pemimpin tersebut,’ kata Bapak. Tidak berarti peran kita nihil, tapi lakukan apapun yang bisa membawa kita dan ummat kepada keselamatan, dengan kapasitas yang kita punya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s