Keras dengan Kelemahan

“Hidup ini keras ya?” adalah kata-kata favorit yang sering diucapkan Pak Suhirman, dosen yang saya anggap seperti ayah sendiri, kepada kami. Setiap mengatakannya, Pak Suhirman selalu sambil tersenyum atau tertawa kecil, dan saya selalu nyengar-nyengir menanggapinya hehe. Saya belum merasakan ‘keras’ seperti apa yang ia maksud saat itu.

Hingga saya temukan pada ‘galon’ dan ‘berdesakan’. Saya -hampir- tidak pernah menangis di depan orang lain, setidaknya menangis itu bisa di tahan. Sampai saya merasakan kerasnya hidup dari hal yang sepele bagi orang lain tapi tidak mudah bagi saya, melalui galon dan berdesakan.

Saya tidak pernah mengangkat galon apalagi menuangkannya sendiri ke dalam dispenser seumur hidup, hingga hari itu. Bapak kostan suatu hari memutuskan usaha galonnya hingga saya akhirnya membeli dari toko tak jauh dari kostan. Saya mendorong sendiri dengan troli, mengangkat dengan susah payahnya ke lantai dua, mendorongnya lagi dengan troli hingga ke ujung teras menuju kamar kostan. Dan apa yang terjadi saat saya mencoba menuangkannya ke dalam dispenser? Kedua tangan saya merah karena tidak kuat mengangkat galon tsb berkali-kali dan air banjir ke lantai kamar dan teras tanpa galon itu berhasil saya masukkan, hingga pada ke sekian percobaan saya berhasil memasukkannya. Apa yang terjadi sepanjang itu? Saya menahan tangis hingga sakit di tenggorokan, tangis yang artinya itu cukup menyakitkan. Saya menahan tangis sejak dari mencoba menaiki tangga, merasakan sakitnya kedua tangan dan melihat air banjir dimana-mana. Hehe, sepele, sangat sepele. Tapi itu ‘kerasnya hidup’ yang saya sadari ketika Pak Suhirman mengatakannya berkali-kali. Bahwa saya lemah untuk sesuatu yang orang lain mungkin dapat melakukannya dengan mudah. Dan pada kali kedua saya mencoba menuangkan galon lagi, hal yang hampir sama kembali terjadi. Sejak saat itu, saya tidak pernah mencoba menuangkannya lagi, alih-alih mencari jasa pengantar dan jasa penuangan galon meski jaraknya cukup jauh dari kostan.

Dan yang kedua adalah berdesakan. Sejak kecil, fisik saya tidak cukup kuat untuk berdiri lama -terlebih di tengah kerumunan orang- seperti kebanyakan orang. Daya toleransi saya saat upacara baris-berbaris cukup rendah. Namun hal itu mulai terlupakan karena saya sudah tidak lagi merasakannya cukup lama. Hingga hari itu, ketika saya mengantri Bus Trans Jakarta di Halte Dukuh Atas saat pick hour. Saya menahan tangis hingga sakit di tenggorokan, karena asam lambung dan tekanan darah yang tiba-tiba drop, panas dingin tiba-tiba, dan saya menahan diri untuk tidak pingsan di tempat. Keluar dari barisan tidak bisa, sedangkan mempertahankan diri di barisan rasanya masyaaAllah… saat itu saya terus-terusan berdzikir dan langsung teringat ibu. Dan tidak jauh dari kejadian itu, saya kembali merasakan hal yang sama saat saya menaiki Bus Trans Jakarta dan tidak kebagian tempat duduk, lagi-lagi saya menahan tangis hingga sakit di tenggorokan. Sepele, sangat sepele, tapi dua hal itu yang membuat saya seketika teringat dengan perkataan Pak Suhirman.

Hidup ini keras, keras dengan apa yang menjadi kelemahan kita. Mungkin yang Pak Suhirman maksud dengan keras adalah realitas hidup itu sendiri, tapi saat itu, sebelum saya menemukan realitas hidup yang beliau maksudkan, saya mendapati kerasnya hidup dari ketidakmampuan saya mengatasi kelemahan saya sendiri. Darinya, saya belajar untuk tidak menyepelekan hal meski terlihat mudah sekalipun. Profesi bapak pengantar galon misalnya atau mempersilahkan mereka yang prioritas untuk mendapatkan kenyamanan di transportasi umum. Dua hal itu sepele, sangat sepele. Tapi kita akan tahu betapa berharganya ketika kita menjadi bagian dari orang yang bahkan tidak dapat bertoleransi atau menangani hal sepele tersebut. Allah Maha Baik, Ia memberikan setiap orang kelebihan dan kekurangan, kekurangan untuk dapat merasakan kerasnya hidup. Dengannya, kita dapat merasakan bahwa nikmat Allah selalu kita temukan dalam hal apapun, ya, dalam hal apapun 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s