Magnet Kebaikan

Dalam banyak hal, saya tidak memilih apa yang orang lain pikir akan saya pilih. Seperti tokoh favorit dalam film atau serial, dimana umumnya seseorang akan memilih mereka yang paling rupawan atau heroik, sebaliknya saya memilih yang jarang orang lain pilih. Bukan karena rupanya atau power-nya dalam alur cerita, tapi tokoh itu seutuhnya. Seorang teman saya, native Korean, cukup terkejut saat saya memilih Jung-hwan dan bukan Choi Taek sebagai tokoh favorit. Atau ketika saya memilih serial humanis seperti Misaeng dibandingkan drama blockbuster sekelas Descendent of Sun.

Seperti halnya dalam berteman. Saat pertemanan diidentikkan dengan cluster rupawan, cluster kaya, cluster gaul, cluster daerah, cluster shalih, cluster cerdas, dll, saya ada di cluster campur-campur hehe. Hal pertama yang membuat saya kagum pada orang lain adalah kebaikan dirinya, cara ia memperlakukan orang lain, akhlaqnya. Sedangkan ilmu, kecerdasan, keshalihan, menjadi nomor kedua setelah akhlaq. Saya percaya mereka, muslim yang berakhlaq baik adalah cerminan keimanan mereka.

Kamu tahu apa yang bisa membuatmu menangis hanya dari melihat seseorang? Saat kamu melihat ketulusan hatinya terhadap orang lain. Saya belajar banyak dari melihat orang lain bersikap terhadap sesamanya. Jika kebaikan itu sulit dilihat dalam realita, saya cenderung mencarinya dari buku atau film. Saat Bo-gum menabrakan mobil Fortuner bagian belakangnya dengan tidak sengaja, Jun-yeol hanya tertawa dan menepuk bahu Bo-gum, “Tidak papa, tenanglah, yang penting tidak ada yang terluka” seraya menggantikan Bo-gum menyetir. Atau saat saya mendengar dari seorang teman tentang pendapatnya mengenai teman saya yang lain yang sangat kami kagumi akhlaqnya, “Dia tidak pernah membicarakan hal yang buruk tentang temannya” dan memang demikian adanya. Dan setiap mengingat-ngingat contoh kebaikan seperti itu, rasanya… heart-warming.

Persepsi dalam berteman atau memilih figur yang kita sukai, secara tidak sadar adalah representatif dari apa yang kita inginkan ada pada diri orang lain, yang itu menjadi daya tarik utama bagi diri kita. Selera setiap orang bisa berbeda, tapi saat keimanan dan kebaikan menjadi daya tariknya, insyaa Allah, apapun pilihan itu akan membawa pada kebaikan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s